Aku Ingin Berteduh (di Hatimu)

"Cinta adalah sesuatu yang Indah" karena itu Jika aku diberi pilihan "Bernafas atau Mencintaimu," akan aku gunakan " nafas terakhirku untuk mencintaimu "




Tampilkan postingan dengan label Anggota KBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anggota KBM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Desember 2014

Dijamin....!!!

Jodoh takkan datang tiba-tiba jika anda hanya berdiam diri di tempat.
Anda laki-laki jomblo?
Ingin punya istri??
Datangi orang tua/wali si wanita pujaan hati belahan jantung. Dijamin....!!!

jaminan .....?? :D

Rabu, 01 Oktober 2014

-Mengeram Rindu (Menanti Tetas Rindu)-

By: Uvy
===================

Pernahkah kau merasa rindu?
Jangan tanyakan itu padaku
Rinduku,
Layaknya ternak
meLEDAK ...!
Beranak pinak
Di penghujan musim
Butiran anakanak air langit menghujam
Menusuki hati remuk-redam
Air mata linang menggenang disela-sela pejam
Pernahkah engkau mengharu biru rindu?
Padaku, JANGAN kau tanya itu
Tersebab rindu
Beberapa kali pojokan kamarku bocor tergenang linang air mata
Pun kerana menahan pilu ingin bertemu
Bantal-bantalku berkeringat air mata
PERNAHKAH KAU MERINDU!?
Kumohon, jangan tanya itu padaku!


‪#‎Senja_Cahya‬ (menuju tetas rindu)

Menandai hari Lahir

(Teruntuk Sensei @Isa Alamsyah KBM)

By: Uvy
Dengan atau tanpa hadiah
Dengan atau tanpa kata indah
Dengan atau tanpa ungkapan megah
Percayalah.
Engkau ada di sini;
Hati kami
Benar...
Engkau bukan orang terhebat
Tapi di mataku; engkau penuh harkat
Pun begitu bermartabat
Sanah helwah
Barakallah
Untukmu yang begitu gagah
Doaku; mungkin tidaklah megah
Meski bukan syafaat
Semoga lewat perantara malaikat
Doa ini tercatat
Tanpa cacat

(Tertulis ketika senja menyemburat, 15 Agustus 2014. Tepat angka 17.24)
"Cinta dan Setia itu satu paket" (Asma Nadia)

Senja: "Jika engkau mulai ragu
Datanglah kemari
Kita bertukar mata dan hati
Benam mata kananmu di mata kiriku.
Agar engkau mampu melihat apa yang kulihat
Tanam!
Separuh hatiku di sebagian hatimu
Agar aku mampu meremah apa yang sedang kau rasa"


Tuju Kematian Terhormat


By: Uvy

Separuh tubuhnya puisi
Separuhnya lagi sajakku
Sajaknya tertinggal di rumpun rerimbun belantara hati
Tersepi di paling-relung-palung; pulang menuju mati
Menanti jasadjasad puisi
Menjadi-jadi-mayat yang terhormat


Tegal, 8 Sep 2014

-Terbakar Hujan Rindu-


By: Uvy

Rintik anakaanakair mataair langit
Membakar rindu kian teramat
Ranggas! menjerat!!
Menepikan panas rindu hanya membuat dadaterhimpit
Napasku pun sulit
Kepulan rasa terpaksa kuhisap
Menyesap merasuk jasat
Pandangan tak lagi peduli sesat
Sebab cintaku bukan sesaat



(sedasawarsa LDR why NOT...?)
#‎Senja_Cahya‬ (senja di tepian utara 11092014)
Sebuah Jawab untuk puisi JATUH CINTA-nya Mbah Jevindra

By: Andrea Uvy Hidayah

Engkau benar tentang dia
Di matanya yang laut
Tak lagi ada gugus gemintang
Sungguh!!!
tak ada kerlap
tak ada kerlip
tak ada lagi cahya
seketika matanya memancar
dukacita di sekitar menjadi bubar

; semua rasi dengan segala gemerlap cahyaning tiyas telah berkumpul, berpusara di matanya (wanita bermata CAHYA)

‪#‎Senja_Cahya‬ (kaki gunung merapi 120914)

Kamis, 03 Juli 2014

Engkau Menyebutnya C I N T A


By: Andrea 'Uvy' Hidayah

Ketika kau benar-benar menerima seseorang karena kekurangannya, dengan atau tanpa kau katakan, dengan atau tanpa alasan, entah apapun orang bilang, tetap saja engkau menyebutnya CINTA!

***
Beberapa kawan pernah mengataiku gila. Itu benar, karena mengGILAi rindu adalah sebagian tanda-tanda WARASku.
Pun, ketika beberapa orang mengatakan, "Ada beberapa hal di dunia ini yang tak memerlukan alasan." Serta merta aku membenarkan, tak ada yang salah dengan kalimat itu. Karena apa? Karena selama aku hidup ada beberapa hal yang tak memerlukan alasan. Salah satunya, "MENCINTAImu!"


Kau dan aku boleh saja berbeda pendapat. Itu wajar. Pada akhirnya harus disadari, kita memang berbeda dalam segala hal. Kecuali C I N T A.
‪#‎Senja_Cahya‬

Kecipak Tapak Sajak


By:Andrea 'Uvy' Hidayah

Melangkah tanpa jarak
Serupa sajak di tikungan jejak
Penuh tapak-tapak
Tanpa kepak
Kecipak beriak
Gerik; jiwa tergerak 


‪#‎Senja_Cahya‬ (menuju kosong pucuk temaram)

Senin, 30 Juni 2014

Tersenyum dan Berbahagialah

by: Andrea 'Uvy' Hidayah

Bahagia itu sangat sederhana, tergantung kadar kita menyikapi. Menjadi bahagia juga bisa sangat sulit dan menyiksa, manakala kita salah mengambil persepsi.

Bagi pemulung, bahagia itu ketika pulang membawa aneka rupa barang-barang bekas. Dunia serasa indah bila rumah mereka dipenuhi botol, kaleng dan plastik bekas.

Bagi orang sakit, bahagia adalah ketika sembuh. Seperti apapun kekayaan yang dimiliki, tidak akan ada artinya jika ia sakit!.

Bagi anak-anak, bahagia itu ketika berada di bawah asuhan orang tua dengan penuh kasih sayang, perhatian, ketulusan dan penuh cinta.

Bagi pelajar, bahagia itu ketika ulangan dapat nilai bagus, naik kelas tiap tahun dan lulus ujian sehingga melanjutkan ke jenjang berikutnya. Bagi pelajar “pintar” bahagia itu ketika setiap tahun menyabet peringkat pertama dan lulus dengan nilai “mumtaz atau cumclaude”.

Bagi pengajar, bahagia adalah saat para siswa didiknya mampu menyerap apa yang dijelaskan, nilai mereka lebih baik dari sebelumnya dan mereka merasa nyaman dengan cara beliau mengajar.

Bagi suami, bahagia itu ketika punya istri shalihah, tempat mendidik anak-anaknya, tempat keluh kesah ketika gundah, sandaran ketika lemah, penyejuk ketika dilanda amarah.

Bagi istri, bahagia itu ketika punya suami penuh kehangatan, pengertian, perhatian, kasih sayang dan cinta. Menjadi imam bagi keluarganya, menafkahi lahir dan batinnya dengan cara yang halal dan tidak memadunya-HAYO NGAKU ajah. ^_^ /

Bagi mereka penyandang-maaf-cacat, tak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan kelengkapan jasmani, juga perhatian kita.

Bagi pedagang kecil, tak ada yang lebih membahagiakan kecuali barang dagangannya habis terjual dan tidak banyak pelanggan yang hutang.

Bagi wakil rakyat yang waras, SEHARUSNYA bahagia itu ketika bisa menampung dan menyampaikan aspirasi rakyat, pun enggan melakukan kejahatan KORUPSI.

Bagi seseorang yang sedang dilanda asmara, kebahagiaan adalah ketika bisa mendengarkan suara di seberang sana, bertatap mata dengan penuh binar, melihat senyumannya yang membuatmu mengawang, juga kehangatan cintanya yang membuat melayang.

Sebaliknya bahagia juga sangat sulit dan menyiksa. Jika kita tak pernah membuka mata batin untuk bersyukur terhadap apa yang kita miliki.

So... Tetap tersenyum, berbahagia dan bersyukurlah.
"Jika kita bersyukur, Tuhan PASTI akan menambah nikmat-Nya untuk kita". PASTI, PASTI dan PASTI!

‪#‎Senja_Cahya‬ (Ini bahagiaku, mana bahagiamu?) akhir Mei 2014

Seuprit Tentang Cinta

Masih menurut buku yang belum pernah kubaca, halaman entah.
Aku menyaksikan:

"Jati diri cinta layaknya lautan
Jika sudah mengalir, gelombangnya tak bisa dihentikan
Kecuali takdir dan Tuhan"

#Senja_Cahya, 17 juni 2014

Ini JalanKami

by: Uvy - Rinz

Harus diakui
Terkadang kita seperti mentari
Dengan angkuh telah memberi segala keindahan yang dimiliki
Tanpa sadar, pada kadar terntentu dengan teriknya ia membakar sebagian isi bumi


Bila tak mau ikut jalan yang kulalui
Melangkahlah susuri jalanmu sendiri
Kita bertemu di sini
Pucuk puncak tertinggi


Tegal, June 2014

--Androssiopeia*--


by: Andrea 'Uvy' Hidayah


Pandangi gugus gemintang
Di belahan bumi utara
Damai dan tenang
Teduhterang


Andromeda
biarlah janji mengikatmu
Pada semesta bersaksi setia
Lambang perjuangan belenggumu
Mata airmu bersajak tanpa air mata

Cassiopeia
Mengusir duka cita
Pemancar pesona cinta
Langitbumi mengawang doadoa
Membaluri kalian; Andromeda-Cassiopeia


*Androssiopeia: penggabungan dua bintang di belahan bumi utara oleh penulis. Andromeda (putri yang di rantai) dan Cassiopeia (Permaisuri).
Cahya_Senja, 4 june 2014

WANITA

wanita dicipta penuh estetika
dayu suara, getarkan sukma
gemulai raga, nanarkan mata
kerling mata, runtuhkan logika
bila aurot tak terjaga, dia penggoda

bila wanita menggoda
jangankan sang raja
apalagi cuma ksatria
kyai saja bisa tergoda
tahta ditinggalkannya
harta dihadiahkannya
gelar tiba-tiba lupa

Rasulullah bersabda,
"tak kutinggalkan ujian
bagi kaum pria
yang lebih membahayakan
daripada wanita"
(HR Muslim 2076)

wanita uniknya luar biasa
ya dipuji ya dieksploitasi
ya dimanja ya diperdaya
ya dikagumi ya dijahili
itu wanita umumnya

wanita shaliha beda
jangankan warna kulit
lekuk tubuhpun tak ada
jangankan sepatu jinjit
parfumpun tak beraroma
jangankan ngomong njerit
bicarapun kalau ada perlunya
tapi itu cuma beberapa saja
kalau tak salah, dirimu di antaranya

#puisi_by: Mas Adji (KBM)

Sabtu, 28 Juni 2014

Sekelumit (tentang) SENJA

by: Andrea 'Uvy' Hidayah

Baginya...
Menulis seperti kamera, serupa rekam jejak. Mendokumentasikan kehidupan sehari-hari.
Beberapa kisah yang ia tulis, tak lain hanya untuk "melapukkan" dendam, perih dan amarah agar tidak meranggas dalam tindakan, juga untuk melawan ketidakberdayaannya pada nasib. Sebagian (besar) kisah lainnya, ia tulis setelah menziarahi masa lalu, tentang cinta dan rindu. Orang-orang banyak menyebut tulisannya (serupa) puisi. Aku menyebutnya seni.
Ia begitu dekat dengan puisi. Terlalu dekat, hingga (hampir) tak berjarak. Wajar saja, sebab ia selalu mengisi waktu luangnya untuk mencatat gagasan fikir, buah bibir dan segala memori yang pernah menghampiri. Lewat puisi ia serupa dua sisi koin berseberangan. Bisa melukai sekaligus menyembuhkan.

Menyadari jauh dari sempurna, ia tak pernah sendiri. Melalui sebuah wadah ia terus mengasah seninya. Bersama teman-teman dan keluarga besarnya (KBM) saling asah, asih dan mengasuh aksara. Terkadang ia tulis dengan bait-bait telanjang. Namun tak jarang ia memainkan ribuan anak kata pada diksi yang samar_nyaris gelap_sengaja ia tanam di ranah simbolik.
Semangatnya yang berapi untuk terus menulis, membuatnya pernah berjanji pada teman-teman dan keluarga besarnya (KBM) :
"Dengan atau tanpa terbit, aku akan terus menulis. Sampai tulisan itu menulis dirinya sendiri".
‪#‎Tegal‬, 240414 (Andrea "Bukan Hirata" Hidayah)

Selembar Kisah yang Terbelah

by : 23 April

Perpisahan selalu mengantarkan kerapuhan
Sekejap mataku berkabut
Sepasang bening bola manikmu mengedip
Sebentar mengembun
Gerimis membasuh basah wajahmu


Ah...
Lagi-lagi harus menyaksikan hal paling kubenci
;mata air memancar
membelah dua sungai pipimu.

‪#‎Senja_Cahya‬ (kisah lama)

Kamis, 28 November 2013

Sepasang Merpati

by :


Sepasang merpati terbang diberandaku
Mereka membuat iri setiap insan yang menyaksikannya
Merpati gambaran kesetiaan cinta sejati
Lihatlah si jantan sibuk merayu
Disulapnya katajadi bermakna
Di tulisnya janji dalam puisi cinta
setiap senja menjadi saksi
Kala malam purnama ikut merindu
Saat pagi sinar mentari menyapa, Cahayanya menghangatkan hati
Lihatlah si betina menunduk malu
Menata hati tersanjung rayu
Disulamnya tiap kata bermakna
Berjanji akan setia
Terbanglah kau pahlawan hati
Siapkan sarang yang nyaman
Agar janji tak sekedar janji
Dan cinta dapat mulai bersemi
Setiap senja ia tetap menanti
Saat purnama ia merindu
Berharap pagi segera menjemputnya
Dan sang kekasih penuhi janji
Mengucap ikrar sehidup semati.
  

Nasi, Beras dan Cinta

MODAL CINTA
by : Achmad Abu Farha


"Neng kawin nyo'!!" Kata seorang pria kepada seorang wanita.
"Idih ogah banget deh bang!" Jawab sang wanita sambil membuang muka.
"Lah emang ngapa Neng?" Tanya si Pria
"Iii Abang, tampang pas-pasan aje mau ngajak aye kawin. Mana belon kerja, rumah ga punya, motor juga paling nyang nyicilin orang tua. Apa nyang mau diandelin bang?? Entar aye lagi yang kudu kerja ke luar negeri, Abang enak-enakan di rumah maen cewe lagi" Timpal si Wanita
"Idih Eneng mah matre!!!" Ledek si Pria
"Hari gini ga matre ga idup Bang"
"Tapi Abang kan punya cinta neng?"
"Aye mah makannya nasi Bang bukan cinta"
"Tapi kan kalo cinta mah bisa idup Neng"
"Iye sebulan dua bulan bisa bang ngandelin uang kondangan, kesononye kelaperan. Ogah dah aye mah" sambil berlalu pergi
Si Pria pun terbengong-bengong. "Ah gagal gua nanggep dangdut" Pikirnya dalam hati.

https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/614170731978155/?comment_id=622091907852704&offset=0&total_comments=91


Membaca posting di atas membuat jari saya tergerak :

Jadi...
Pilih Cinta atau Beras


Real-nya "Beras lebih penting dari cinta".
Tapi...
"Hidup tenang karena cinta, jauh lebih penting dari pada beras"

Note : Kalau ngga ada beras, kan masih bisa makan ROTI ubi dan lain-lain hehehehe


https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/614182718643623/





Vote : beras atau cinta
by     : Anya Amakusa (Inspired by kang Abu, mas Uvy and JM violina beserta seluruh komentator di lapak yang dibuka semalam).


Apakah engkau berusaha menguji cintaku sebagai perempuan dengan dominasi perasaan ?
Jangan ragukan kesetiaanku pada cinta, sungguh jangan. Demi cinta, benar aku siap kekurangan. Tapi ingatlah, aku ini perempuan. Perempuan dengan dua orang tua yang sangat kuhormati, yang tak boleh ku durhakai. Surgaku di telapak kaki ibuku. Apakah engkau mengkhendaki aku ‘ngeyel’ padanya? Sungguh surga itu akan pindah padamu nanti. Tapi aku tidak ingin perpindahan itu terjadi secara paksa.
Sungguh… jika kamu memaksa, cinta ini akan terbentur restu orang tua. Memilih cintamu atau ridha orang tuaku? Ahhhh…..
Aku dilema…
Aku pun tak mungkin memilih beras semata…. Sungguh aku tak bisa mengolah beras tanpa cinta. Jika mengolah beras saja aku tak mampu maka jangan bayangkan akan tercipta taman surga di rumah. Benar aku bisa belajar untuk mencintai. Tapi itu sangat berat . Sungguh.
Pintaku…. Sungguh tak muluk-muluk
Jadilah pria dengan keseimbangan cinta dan beras sehingga aku tak perlu berada dalam pilihan yang sulit ini. Tempatkanlah aku dalam pilihan yang mudah lagi memudahkan jalan kita nanti. Aku yakin cinta akan membuatmu berusaha meperoleh beras sebelum menemui orang tuaku. Do’aku menyertaimu, selalu.

https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/614622001933028/?comment_id=622087941186434&offset=0&total_comments=285

(TAK) SAYANGKAH KAU?

 
28 November 2013 pukul 21:50
Malam itu
Kau peluk aku di pintu jendela
Menjanjikan topi anyaman berenda
Memelukku erat, menjalarkan kehangatan
Berdua
Kita susuri utara hingga selatan
Ternyata ucapan hanya sebatas kiasan
Hingga kini topi anyaman hanya bayangan

Setiap fajar,  menyeruakku di perkebunan karet
Memetik pakis, mengutip kayu bakar
Demi membeli sabun cuci sebatang
Bocah kecil kau paksa mematahkan tulang
Bahkan aku  belum sempat mengeja
Pun mengenal  Alif, Ba, Ta

Di perempatan, sebuah cambukan melayang
Hanya karena lupa mengantar kue yasinan
Linang tergenang di pasak hatiku
Menggulung sakit, marah, dan malu
“Beginikah caramu mencintaiku?”

Aku hanya ingin sepasang sepatu baru
Tapi putri dari istrimu lebih kau jadikan ratu
Mengapa tak kau pulangkan aku kepada Ibu
Sungguh
Jiwa ini merindu

Ku coba merangkai prestasi
Bahkan dekapmu tak sempat kucicipi
Mengapa diri jadi omongan kini?
Bukankah dulu kau tak pernah peduli
Ketika nilaiku menjadi yang tertinggi
Dari tetes peluhku sendiri

Tak kah kau ingat ketika selembar ijazah menjadi perkara
Bahkan Bule pun tak lagi percaya
Perpisahan sekolah bagaikan prahara
Mencabik-cabik hati, menoreh darah
“Ayah, aku terluka.”

Tujuh tahun ku berjuang di kota orang
Pulang berharap sekecup sambutan
Tapi apa yang terlontar nanar?
“Kau bukan anakku!!”
Pecahmu tanpa ampun ke dasar hatiku
Anak mana yang sanggup tegap berdiri
Kala Ayah tak lagi menyayangi buah hati

Ku langkahkan kaki ke beranda Ibu
Berharap ia mau memelukku
Namun di sisinya kini terdapat empat jiwa
Bukankah aku yang pertama
Mengapa kau mengusirku jua?
“Ibu, tak bisakah hangat itu kurasa”
Seperti putra-putrimu, aku juga anakmu

Setiap sujud hanya namamu yang kusebut, Bu
Hanya namamu
Wanita yang tlah melahirkan ragaku
Mengapa kini merajut jarak

“Aku tak pernah membesarkanmu”
Inikah cinta Ibunda?
Mengapa sangat berbeda dengan warita

Kemana kaki harus melangkah
Kala kau tak menerima, begitu pun Ayah
Hanya sajadah tempat semua resah membuncah
PadaNya bening nestapa ku langitkan
Berharap secuil dekapan walau hanya di jemari tangan
Ya Rahim, Ya Khaliq
Kau pemilik segala nyawa
Pencipta segala suka dan bahagia
Bolehkah kurasakan setetes hadirnya
Hanya setetes, Ya Rabb
Hanya setetes

Titah Tuhan selalu benar, bukan?
Ketika hijrah tak lagi bertuan
Ia  kirim penyembuh lara
Sebongkah dada selapang senja
Memekarkan berjuta maaf
Dia memang tak izinkanku menikmati manis
Seperti cerita cinta di bawah payung gerimis
Tapi, harap tak pernah mati
Bahwa akan ada nanti
Suatu masa penuh dengan bunga
Pertemuanku denganNya

Akan ada


: Cintailah orang tuamu, karena tak selamanya semua orang
merasakan hal yang sama sepertimu. Bersyukurlah, Teman.

NB: Kisah seorang sahabat


https://www.facebook.com/notes/jm-vivi-violina/tak-sayangkah-kau/714459695240130