Bahagia itu sangat sederhana, tergantung kadar kita menyikapi. Menjadi bahagia juga bisa sangat sulit dan menyiksa, manakala kita salah mengambil persepsi.
Bagi pemulung,
bahagia itu ketika pulang membawa aneka rupa barang-barang bekas. Dunia
serasa indah bila rumah mereka dipenuhi botol, kaleng dan plastik
bekas.
Bagi orang sakit, bahagia adalah ketika sembuh. Seperti apapun kekayaan yang dimiliki, tidak akan ada artinya jika ia sakit!.
Bagi anak-anak, bahagia itu ketika berada di bawah asuhan orang tua dengan penuh kasih sayang, perhatian, ketulusan dan penuh cinta.
Bagi pelajar, bahagia itu ketika ulangan dapat nilai bagus, naik kelas tiap tahun dan lulus ujian sehingga melanjutkan ke jenjang berikutnya. Bagi pelajar “pintar” bahagia itu ketika setiap tahun menyabet peringkat pertama dan lulus dengan nilai “mumtaz atau cumclaude”.
Bagi pengajar, bahagia adalah saat para siswa didiknya mampu menyerap apa yang dijelaskan, nilai mereka lebih baik dari sebelumnya dan mereka merasa nyaman dengan cara beliau mengajar.
Bagi suami, bahagia itu ketika punya istri shalihah, tempat mendidik anak-anaknya, tempat keluh kesah ketika gundah, sandaran ketika lemah, penyejuk ketika dilanda amarah.
Bagi istri, bahagia itu ketika punya suami penuh kehangatan, pengertian, perhatian, kasih sayang dan cinta. Menjadi imam bagi keluarganya, menafkahi lahir dan batinnya dengan cara yang halal dan tidak memadunya-HAYO NGAKU ajah. ^_^ /
Bagi mereka penyandang-maaf-cacat, tak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan kelengkapan jasmani, juga perhatian kita.
Bagi pedagang kecil, tak ada yang lebih membahagiakan kecuali barang dagangannya habis terjual dan tidak banyak pelanggan yang hutang.
Bagi wakil rakyat yang waras, SEHARUSNYA bahagia itu ketika bisa menampung dan menyampaikan aspirasi rakyat, pun enggan melakukan kejahatan KORUPSI.
Bagi seseorang yang sedang dilanda asmara, kebahagiaan adalah ketika bisa mendengarkan suara di seberang sana, bertatap mata dengan penuh binar, melihat senyumannya yang membuatmu mengawang, juga kehangatan cintanya yang membuat melayang.
Sebaliknya bahagia juga sangat sulit dan menyiksa. Jika kita tak pernah membuka mata batin untuk bersyukur terhadap apa yang kita miliki.
So... Tetap tersenyum, berbahagia dan bersyukurlah.
"Jika kita bersyukur, Tuhan PASTI akan menambah nikmat-Nya untuk kita". PASTI, PASTI dan PASTI!
#Senja_Cahya (Ini bahagiaku, mana bahagiamu?) akhir Mei 2014
Bagi orang sakit, bahagia adalah ketika sembuh. Seperti apapun kekayaan yang dimiliki, tidak akan ada artinya jika ia sakit!.
Bagi anak-anak, bahagia itu ketika berada di bawah asuhan orang tua dengan penuh kasih sayang, perhatian, ketulusan dan penuh cinta.
Bagi pelajar, bahagia itu ketika ulangan dapat nilai bagus, naik kelas tiap tahun dan lulus ujian sehingga melanjutkan ke jenjang berikutnya. Bagi pelajar “pintar” bahagia itu ketika setiap tahun menyabet peringkat pertama dan lulus dengan nilai “mumtaz atau cumclaude”.
Bagi pengajar, bahagia adalah saat para siswa didiknya mampu menyerap apa yang dijelaskan, nilai mereka lebih baik dari sebelumnya dan mereka merasa nyaman dengan cara beliau mengajar.
Bagi suami, bahagia itu ketika punya istri shalihah, tempat mendidik anak-anaknya, tempat keluh kesah ketika gundah, sandaran ketika lemah, penyejuk ketika dilanda amarah.
Bagi istri, bahagia itu ketika punya suami penuh kehangatan, pengertian, perhatian, kasih sayang dan cinta. Menjadi imam bagi keluarganya, menafkahi lahir dan batinnya dengan cara yang halal dan tidak memadunya-HAYO NGAKU ajah. ^_^ /
Bagi mereka penyandang-maaf-cacat, tak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan kelengkapan jasmani, juga perhatian kita.
Bagi pedagang kecil, tak ada yang lebih membahagiakan kecuali barang dagangannya habis terjual dan tidak banyak pelanggan yang hutang.
Bagi wakil rakyat yang waras, SEHARUSNYA bahagia itu ketika bisa menampung dan menyampaikan aspirasi rakyat, pun enggan melakukan kejahatan KORUPSI.
Bagi seseorang yang sedang dilanda asmara, kebahagiaan adalah ketika bisa mendengarkan suara di seberang sana, bertatap mata dengan penuh binar, melihat senyumannya yang membuatmu mengawang, juga kehangatan cintanya yang membuat melayang.
Sebaliknya bahagia juga sangat sulit dan menyiksa. Jika kita tak pernah membuka mata batin untuk bersyukur terhadap apa yang kita miliki.
So... Tetap tersenyum, berbahagia dan bersyukurlah.
"Jika kita bersyukur, Tuhan PASTI akan menambah nikmat-Nya untuk kita". PASTI, PASTI dan PASTI!
#Senja_Cahya (Ini bahagiaku, mana bahagiamu?) akhir Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar