Baginya...
Menulis seperti kamera, serupa rekam jejak. Mendokumentasikan kehidupan sehari-hari.
Beberapa kisah yang ia tulis, tak lain hanya untuk "melapukkan" dendam, perih dan amarah agar tidak meranggas dalam tindakan, juga untuk melawan ketidakberdayaannya pada nasib. Sebagian (besar) kisah lainnya, ia tulis setelah menziarahi masa lalu, tentang cinta dan rindu. Orang-orang banyak menyebut tulisannya (serupa) puisi. Aku menyebutnya seni.
Ia begitu dekat dengan puisi. Terlalu dekat, hingga (hampir) tak berjarak. Wajar saja, sebab ia selalu mengisi waktu luangnya untuk mencatat gagasan fikir, buah bibir dan segala memori yang pernah menghampiri. Lewat puisi ia serupa dua sisi koin berseberangan. Bisa melukai sekaligus menyembuhkan.
Menyadari jauh dari sempurna, ia tak pernah sendiri. Melalui sebuah
wadah ia terus mengasah seninya. Bersama teman-teman dan keluarga
besarnya (KBM) saling asah, asih dan mengasuh aksara. Terkadang ia tulis
dengan bait-bait telanjang. Namun tak jarang ia memainkan ribuan anak
kata pada diksi yang samar_nyaris gelap_sengaja ia tanam di ranah
simbolik.
Semangatnya yang berapi untuk terus menulis, membuatnya pernah berjanji pada teman-teman dan keluarga besarnya (KBM) :
"Dengan atau tanpa terbit, aku akan terus menulis. Sampai tulisan itu menulis dirinya sendiri".
#Tegal, 240414 (Andrea "Bukan Hirata" Hidayah)
Semangatnya yang berapi untuk terus menulis, membuatnya pernah berjanji pada teman-teman dan keluarga besarnya (KBM) :
"Dengan atau tanpa terbit, aku akan terus menulis. Sampai tulisan itu menulis dirinya sendiri".
#Tegal, 240414 (Andrea "Bukan Hirata" Hidayah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar