by : JM Vivi Violina
28 November 2013 pukul 21:50
Malam ituKau peluk aku di pintu jendela
Menjanjikan topi anyaman berenda
Memelukku erat, menjalarkan kehangatan
Berdua
Kita susuri utara hingga selatan
Ternyata ucapan hanya sebatas kiasan
Hingga kini topi anyaman hanya bayangan
Setiap fajar, menyeruakku di perkebunan karet
Memetik pakis, mengutip kayu bakar
Demi membeli sabun cuci sebatang
Bocah kecil kau paksa mematahkan tulang
Bahkan aku belum sempat mengeja
Pun mengenal Alif, Ba, Ta
Di perempatan, sebuah cambukan melayang
Hanya karena lupa mengantar kue yasinan
Linang tergenang di pasak hatiku
Menggulung sakit, marah, dan malu
“Beginikah caramu mencintaiku?”
Aku hanya ingin sepasang sepatu baru
Tapi putri dari istrimu lebih kau jadikan ratu
Mengapa tak kau pulangkan aku kepada Ibu
Sungguh
Jiwa ini merindu
Ku coba merangkai prestasi
Bahkan dekapmu tak sempat kucicipi
Mengapa diri jadi omongan kini?
Bukankah dulu kau tak pernah peduli
Ketika nilaiku menjadi yang tertinggi
Dari tetes peluhku sendiri
Tak kah kau ingat ketika selembar ijazah menjadi perkara
Bahkan Bule pun tak lagi percaya
Perpisahan sekolah bagaikan prahara
Mencabik-cabik hati, menoreh darah
“Ayah, aku terluka.”
Tujuh tahun ku berjuang di kota orang
Pulang berharap sekecup sambutan
Tapi apa yang terlontar nanar?
“Kau bukan anakku!!”
Pecahmu tanpa ampun ke dasar hatiku
Anak mana yang sanggup tegap berdiri
Kala Ayah tak lagi menyayangi buah hati
Ku langkahkan kaki ke beranda Ibu
Berharap ia mau memelukku
Namun di sisinya kini terdapat empat jiwa
Bukankah aku yang pertama
Mengapa kau mengusirku jua?
“Ibu, tak bisakah hangat itu kurasa”
Seperti putra-putrimu, aku juga anakmu
Setiap sujud hanya namamu yang kusebut, Bu
Hanya namamu
Wanita yang tlah melahirkan ragaku
Mengapa kini merajut jarak
“Aku tak pernah membesarkanmu”
Inikah cinta Ibunda?
Mengapa sangat berbeda dengan warita
Kemana kaki harus melangkah
Kala kau tak menerima, begitu pun Ayah
Hanya sajadah tempat semua resah membuncah
PadaNya bening nestapa ku langitkan
Berharap secuil dekapan walau hanya di jemari tangan
Ya Rahim, Ya Khaliq
Kau pemilik segala nyawa
Pencipta segala suka dan bahagia
Bolehkah kurasakan setetes hadirnya
Hanya setetes, Ya Rabb
Hanya setetes
Titah Tuhan selalu benar, bukan?
Ketika hijrah tak lagi bertuan
Ia kirim penyembuh lara
Sebongkah dada selapang senja
Memekarkan berjuta maaf
Dia memang tak izinkanku menikmati manis
Seperti cerita cinta di bawah payung gerimis
Tapi, harap tak pernah mati
Bahwa akan ada nanti
Suatu masa penuh dengan bunga
Pertemuanku denganNya
Akan ada
: Cintailah orang tuamu, karena tak selamanya semua orang
merasakan hal yang sama sepertimu. Bersyukurlah, Teman.
NB: Kisah seorang sahabat
https://www.facebook.com/notes/jm-vivi-violina/tak-sayangkah-kau/714459695240130
Tidak ada komentar:
Posting Komentar