Aku Ingin Berteduh (di Hatimu)

"Cinta adalah sesuatu yang Indah" karena itu Jika aku diberi pilihan "Bernafas atau Mencintaimu," akan aku gunakan " nafas terakhirku untuk mencintaimu "




Minggu, 17 November 2013

Simbok, Rinai tak Pulang


PUISI ESSAI
Karya Luthfia 


/1/
Simbok...
Telepon mu kembali berdering, bukan
Satu salam cium hangat dariku yang kembali tak bisa pulang
Lihat
Disini aku masih menadah keringat bersama rekan
Mengibarkan bendera merah putih yang berwujud baru bermakna usang
Terkoyak arti oleh mentrinya sendiri
/2/
Simbok...
Satu rindumu yang ku terima minggu lalu
“Rinai... Tak lagi bersisa satu kepeng dalam jelanga,
Maafkan simbok yang tak sanggup salurkan nasi wayu atau sekedar
Terigu, kau akan baik-baik saja bukan? Bersabarlah hingga bapak
Pulang membawa segatang uang. Hadiah president katanya.”
Aku hanya meng-iya-kan,
Teringat nun jauh di rumah sana simbok memikul dua gendongan
Menjajakan krupuk di pinggir jalanan
Mana bisa duduk saja seperti para pelayan yang menjelma raja
Dan kau lihat...
Raja-raja mereka melepuh tangan, berkapal kaki hanya tuk mencari sesuap nasi
/3/
Simbok...
Maaf sebenarnya ini alasan ku tak pulang
Disini anakmu Rinai, tengah sok-sok an mengadili
Sedikit tak peduli mati
Karna kami ini adalah putra mahkota raja, yang diiming singgasana
Dan mereka para pelayan yang mensabotase hak kami!
Disini kami tak hanya berteriak memaki
Disini kami tak hanya membakar gelora anarki
Disini kami tak hanya memblokade jalan tanpa tujuan
Kawan-kawan dan Rinai, anakmu sedang bergulat dengan bau jalanan, mejejalkan kisah melek peradaban
/4/
Simbok...
Masih ingatkah apa yang kau ajarkan dahulu tentang harga mati
“Kehormatan negri adalah bagian dari keimanan diri.”
Melihat mereka yang disumpah atas nama kitab suci
Lantas menginjaknya tak lebih dari sampah yang dibuang di pinggir kali
Bukan mereka pula yang mengecam
Ketika kitab-kitab suci akan dibakar?
Bagiku mbok...
Mereka lebih dari apa yang kau lihat dari sebuah perang fisik mengantarkan
Kesucian ajaran pada api
Dan anakmu yang tak bisa pulang ini mencoba berjihad bathin lewat kitab suci yang kami acung tinggi
/5/
Simbok...
Ini masih Rabu pagi, dan satu ikat bendera perah putih menjadi saksi
Kami para pemuda anak raja yang hampir dicekik mati oleh pelayan sendiri
Berduyun mengobarkan semangat cinta
Bendera damai yang kami kobarkan adalah lagu Indonesia raya
Yang kini hanya sebagai matahari mati di hari senin
Bendera damai yang kami kibarkan adalah peti mati yang bertuliskan nama negeri
Yang entah mungkin tak bernyawa lagi
/6/
Simbok....
Masih berbekas ingatan di hari sendu
Laju hari yang berjalan begitu tak tentu
Seluruh Mahasiswa berjiwa ksatria meringsek mengerek bendera
Memenuhi alur pejalan kaki, sepeda dan mobil-mobil milik para pejabat negara
Berteriak mengumandangkan lagu Indonesia raya, mengajak para sesepuh tua pe-sepeda
Berhenti mengenang masa muda, masa muda yang mengkebiri kemerdekaan mereka
Kami berdiri hormat menginginkan mereka pejabat bermobil mewah sejenak mengheningkan cipta
Mendengarkan lagu sedih rakyat jelata, tentang isi-isi bungkus nasi mereka yang kian rata
Para tetua yang kehilangan tangan atau kaki mereka
Atau bangsa macan yang kehilangan taringnya
Kami menunduk sendu, menyanyikan lagu dengan haru
Mereka para pe-sedan mewah ribut berebut nada sumbang dengan klakson mobil
Pamerkan derit-derit suara sampah mereka dengan serapah yang bagi mereka terhormat tentunya
Tidakkah kalian dengar...
Kami sedang mengumandangkan lagu kebangsaan,
Bukan salah jika kami mengebrak kaca mobilmu!
Bukan salah jika kami memuntahkan satu dua balasan serapah jitu
/7/
Simbok...
Kini masih di Rabu pagi,
Rinai anakmu tak sedang mengingatkan hari ketika BBM dinaikkan
Atau ketika melihat penjara para pelayan raja bak istana
Berjajar dipelataran hanya menyalurkan nada sumbang
ah...simbok
Aku rinai anakmu masihlah gadis lugu
Seperti pesanmu dulu saat hendak ku berangkat menimba ilmu
“Janganlah kau jadi para pendemonstran seperti di layar cembung
Hanya berkata dan berteriak ugal-ugalan memenuhi jalanan
Tak jelas sumpah serapah yang mereka teriakan.” katamu bukan?
Maaf, aku anakmu Rinai memang masih seperti dulu
Lugu tersenyum malu-malu
Jika seorang laki-laki merayu
Tapi jiwaku tak lagi merah jambu
Jiwa srikandi mungkin moksa dalam ragaku
Biarkan aku tegak berdiri disini mbok
Menenteng bendera pusaka, menyanyikan Indonesia raya
Demimu, Demi bapak, Demi seluruh raja yang mengemis di negeri sendiri
/8/
Dari jalan kami bergerak
Menyebrang jalanan yang seakan tengah berarak
Menghentikan sejenak kesibukan pertigaan Kampus
Yang hingga tengah malam tak pernah pupus
Tak luput di mata kami
Mereka sibuk mengencangkan sabuk yang melilit bak kekang kuda
Menahan nafas hendak berserapah atas kami Mahasiswa
yang mungkir dari sibuk mereka
Dan darah yang menggelagak mengangkat kepal tangan kiri lebih keatas
Dipandu kakak senior kami bernyanyi keras
“Disini negri kami, tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Negri kami subur tuhan
Di negri permai ini berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas hak nya tergusur dan lapar
Bunda..relakan darah juang kami untuk membebaskan rakyat
Mereka dirampas haknya tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berbakti
Padamu kami mengabdi.”
Dalam isak tangis mengenang bangsa
Sempat kuselipkan do’a
/9/
Oh tuhan ini tanganku yang tak berdaging
Bertulang kecil berkulit tipis, hitam tak lagi manis 
Saksi atas perjuangan kami yang mereka sebut dengan pemberontakan sia-sia
Oh tuhan ini kakiku tak jua disebut jenjang
Bukan tuk dipertontonkan layaknya putri-putri yang berdiri meludahi tubuh sendiri
Kering, kasar tak pula bentuk rupawan
Saksi perjalanan bergulat dengan tar dan terotoar menyambungkan lidah
Para penjaja jalanan, para rakyat kelaparan, yang uangnya mereka jejalkan
Dikantong-kantong perawan jalang
Oh tuhan ini hatiku, rapuh, terluka oleh sembilu
Berdarah atas parang janji mentah, yang di koar-koarkan di pelosok negri sembari berbagi “mie”
Dia menangis menyaksikan “Indahnya Negeri ini.”
Oh Tuhan, yang Maha Besar
Ku tahu mungkin Kau telah terlalu murka hingga acuhkan negeri kami
Mungkin Kau terlalu bosan menatap para tikus
yang hidup makmur bak di ladang subur
Mungkin Kau telah jemu
Menghukum angkara yang tak kunjung jera
/10/
Rehat sejenak tak jadi pengendor semangat
Rinai masih di ujung hujan yang kian beranak
Membiarkan para pejalan yang terlihat kian berpinak
Peluit-peluit polisi mulai mengendurkan jalanan yang
Seperti berbatu kali
/11/
Dan duduk di selasar jalanan
Menatap rombongan para manusia picisan
sok-sok an mentereng di balik tangkupan ketiak sedan pinjaman
Duduk saja kami mengangkang
Saling tukar bekas ludah dalam mineral gelasan
Hilang dahaga,
bukan berarti hilang pula nada perubahan dalam dada
Hak Rakyat harus dibela
Uang rakyat mesti diletakan di tempatnya
/12/
Simbok...
Tak ubahnya tentang kami yang sedang berjihad
Ini cara kami untuk sedikit melaknat para keparat
Bukan sok suci
Tapi memang hanya ini cara kami
Simbok... Ini Rinai anakmu
Kembali minta restu
Ber-bharatayuda di medan laga jalanan kota
/13/
Bukan di layar cembung kita engkau juga menatap
Sidang ketua pengadil rakyat tengah sekarat
Terjerat hukum berkarat
Tuntutan potong tangan kiat melesat
Hukum mati bahkan kini menjadi pilihan tanpa syarat
Kami hanya tak ingin melihat
Mereka para pendusta
Memiliki hotel di balik penjara
/14/
Dan berita tentang anakmu yang kian ramai
Dibawa oleh teman setanah landai
Membawamu dalam perhelatan masai
Maaf mbok... Aku tak bisa pulang
Alasan sebaku yang ku berikan memang hanya dusta pilihan
Tak sanggup ku mengatakan jika
Anakmu, Rinai tengah melempar orasi di jalanan
Kau yang menelfon pagi itu
Memintaku pulang    
/15/
“Pulang anakku sayang, sadarlah yang kau lakukan
Hanya sebuah kesia-siaan,
Adakah kayu berubah menjadi minyak setelah kau berdemo?
Adakah harga panganan mendadak recehan setelah kau berkoar
Menyemarakan kata-kata serapah untuk para petinggi tak berhati?
Sudahlah anakku,
Tak ridho simbok jika pergimu hanya untuk
Berjibaku dengan aspal trotoar
Hanya untuk bernyanyi dan saling melempar batu di jalanan.”
Ku bayangkan setitik embun mengangantung angan
/16/
Maaf simbok...
Bukan karna darahku darah muda
Atau geloraku gelora Bung Karno ketika Indonesia Merdeka
Ini tentang aku yang tak sanggup menatap
Tangan ringkihmu terbebani beban berat
Memikul segantang krupuk
dan berkeliling desa-desa tak terlihat
Dan mereka yang duduk sebagai pejabat
Lihai benar berjanji keparat
Katanya kami datang dengan bendera besar pengobar kebenaran
Membawa jalur perdamaian untuk rakyat sekalian
Cih......!!!
/17/
Maaf simbok...
Kini biarkan Rinai kembali berdiri
Menantang hukum yang kian tak pasti
Satu hari masih di Rabu pagi
Satu hati bersama para pemuda negri
Kami maju berkolaborasi
Membakar keranda meminta hukum mati
Berdrama memotong jari
/18/
Satu tembakan panjang milik serdadu polisi
Tak setuju dengan perlakuan kami
Mulai panas hari panas hati
Kobaran semangat milik pelantun lagu Padamu Negri
Memperkokoh niat penuntutan hukum maxi
“Had atau mati”
/19/
Pembakaran keranda
berlajut pada pembakaran replika
Sejenak polisi mulai geram
Menilat kami yang tak kunjung redam
Tembakan gas mulai menyerang
Satu persatu berlari tunggang langgang
Walau ada tetap yang kokoh ima
Meringsek maju menantang di medan laga
Tetap saja kami yang tak bersenjata kalah rasa
Pedih mata mulai terasa
Pukulan tongkat mulai punya mata
Katanya harus waspada mengejar mangsa
/20/
Ah...simbok
Rinaimu tak sanggup lari
Bayang wajah para penjaja koran
Atau nenek pencuri sebiji kakao semakin menguatkan
Hukum negri perlu penjagaan
Mahkamah Konstitusi bukanlah Dewa!
Apalagi Tuhan yang maha esa
Bukankah mereka diperlakukan semena?
Dan apa pendapat petinggi negri
Meraka hanya geleng kepala.
/21/
Simbok...
Biarkan Rinai memejamkan mata
Merasakan pukulan yang malang melintang mulai mendera
Entah dari batu yang seperti hujan raga
Atau dari gas yang memedihkan mata
Simbok...
Maafkan Rinai, karna masih tetap tak bisa pulang
Ikut merayakan pernikahan abang
Biarkan Rinai, berdiri mengulum matahari disini
Dan berharap tak kulihat lagi
Nasib para jelata di pinggiran kota
/22/
Masih di rabu pagi,
Sisa keranda putih hanya menjadi saksi
Beginilah nasib hukum negeri kami
Mati
Sepi
/23/
Dan sekali lagi telpon ku berdering
satu nama berkedip manja
“Pergilah anakku, Simbok tak lagi bisa melarangmu
Hanya satu doa terselip di tahajudku
Allah, Jauhkan Rinaiku dari duka
Dari nestapa juga dari bahaya
Jika ini jalan jihad yang kau pilih nduk
Kobarkan atas nama membela negara
Dan mereka yang tertindas atas nama hukum
Yang kian tak kentara.”
/24/
Simbok...
Ini anakmu Rinai berjanji tuk pulang
Membawa sekerat janji yang tak lagi berlubang
Hanya saja
Entah tiba-tiba sebuah batu datang
Dan gelap semua terbang
Simbok, Rinai tetap berjanji untuk pulang

MENGEJAR KERETA FAJAR

Karya: Cahaiaa Lintang'Tsuraya


Gemerisik desir angin malam menyapa dedaunan. Diatas sana sabit akhir ramadhan memaksa sang bulan menampilkan seulas senyuman. Di bangku tua teras rumah aku duduk termenung, mungkin lebih tepatnya melamun. Ragaku di sini tapi anganku melayang jauh naik ke langit. Melakukan demonstrasi besar-besaran pada Tuhan.

"Wahai Yang Maha Agung mengapa harus ada pandangan si kaya si miskin, terpelajar kampungan, tampan dan biasa saja? Jawab aku Tuhan," teriakku berapi-api.

"Pantaskah manusia merendahkan manusia lain hanya karena pangkat dan martabat? Bukankah di depan-Mu semuanya sama?" protesku lagi.

Ah entahlah. Aku tak pernah mengerti jalan pikiran Ayah. Wildan, pria pertama dan satu-satunya pria yang berhasil masuk ke dalam hatiku, ditak acuhkan begitu saja. Jangankan ditemui selayaknya tamu, disapa pun tidak. Karena penampilannyayang biasa saja dan tak bermobil mewah? Ah, itu alasan paling naif yang akhirnya harus aku dengar dari mulut ayahku sendiri.

--**--

Kunjungan kelamnya sang malam seolah selalu mengajakku menapak jauh ke masa lalu. Melemparku ke samudra rindu yang tak bertepi. Yah benar. Malam ini dan seperti malam-malam sebelumnya rindu ini kembali membuncah membelah kegelapan, berharap dibalik sunyi bertemu dengan kekasih hatiku, Wildan. Tiga bulan tak bertemu membuat rinduku semakin menderu.

Bagiku pria berperwakan sedang ini adalah sosok sempurna tak tergantikan.Tuturnya lembut, sopan santun pada wanita, berpola pikir cerdas dan matang, tindak tanduknya sangat hati-hati (bahkan menurutku terlalu berlebihan), serta rasa tanggung jawabnya yang luar biasa sungguh membuatku semakin mabuk kepayang. Pertemuan pertama biasa saja tapi untuk selanjutnya aku pun terpesona.

Ku tarik nafas dalam-dalam. Lebaran tinggal satu minggu lagi, apa kabar gerangan Wildanku. Kembali kutarik dalam nafasku, lima detik kemudian bibir initersenyum, benar-benar tersenyum. Cara ini selalu berhasil membuat si perasaan membaik.

Masih dengan ramuan senyum beberapa detik yang lalu, ku raih hape jadul dari kantong baju.

"Tat..tit..tut..tat..tit..tut.." Entah malaikat mana yang menuntun jemariku hingga aku -setelah tiga bulan tak pernah melakukan kontak apapun- dengan pedenya mengirim sms untuk Wildan.

"Apa kabar? Kapan mudik?" singkat, jelas dan terlalu to the point.

Satu menit dua menit akhirnya satu jam pun berlalu, dan aku masih setia menunggu. "Hmm.. Sudahlah mungkin dia benar-benar ingin melupakanku."Aku putus asa.

"Kliring..kliring.." Layar hapeku berkedip-kedip menyala.

"1 new message"

Aih! Hati pun bergetar mendadak keringat dingin membasahi jari-jemariku. Antara berharap dan putus asa kubaca juga sms itu.

"Alhamdulillah sehat, insyaallah selasa aku pulang, dan kamu juga apa kabar?"

Aku berbunga-bunga. Dia menanyakan kabarku, masih pedulikah dia? Dengan semangat membara ku balas sms-nya.

"Alhamdulillah sehat."

Hah?! What? Hanya mengetik kalimat itu, setelah hampir seratus malam memendam segunung rindu? Entahlah hanya abjad-abjad itu yang mampu aku rangkai.

"Bodohnya.. kenapa tidak tanya ini itu? Tuh kan sms-nya berakhir,"hiks tangisku dalam hati.

---**---

Malam ini masih di bangku tua ini aku duduk bervisualisasi. Yah, mengeluarkan jurus tersakti, meniru para guru besar dalam DVD "The Secret" favoritku. Pikiran adalah kekuatan terdahsyat di alam semesta, begitulah pesan film itu. Ditambah kutipan "La Tahzan" yang sempat aku baca tempo hari. "Jika engkau punya sebuah ide segera satukan tekad untuk melakukannya, sebab rusaknya ide itu karena keraguan semata."

Sepertinya ungkapan para cendekiawan tersebut berhasil meracuni otakku yang sedang linglung. Dengan hati sebulat kue donat dan nekatnya pikiran pekat,akhirnya aku melakukan meditasi gila ini.

Pertama ambil nafas dalam, rileks, tenangkan pikiran dan point pentingya adalah"merasa baik" lah. Ku ikuti panduan visualisasi dalam DVD itu. Dalam mata terpejam ku bayangkan, menyusuri gerbong kereta. Menutup hidung tak tahan dengan parfumn alami penghuni seantero kereta. Aku serasa benar-benar mencium baunya. Hanya berselang dua gerbong, aku terpana melihat sosok bertopibersandar pada kursi. Matanya tajam memandang keluar jendela.

Tiba-tiba entah senyawa apa perlahan mengaliri setiap pembuluh darahku. Selaksa melayang ke angkasa, sungguh setelah berbulan-bulan baru kali ini bisa merasakan sensasi luar biasa seperti ini. Dengan senyum mengembang aku berhasil mengajak Wildan turun. Hari ini akan kuhabiskan hanya dengannya.

Perlahan ku buka mataku, meditasi berakhir. Ada yang berbeda dengan tuan perasaan. Entahlah, bahagia menyelimuti hati dan jiwa, seolah baru saja aku bertemu dengan Wildan. Senyum bahagia menyembul, karena teori menyebutkan jika perasaan menjadi lebih baik, selamat! Visualisasi berhasil. Peluang harapan akan mewujud semakin besar.

---**---

Hari selasa pun tiba. Aku pastikan hari ini Wildan memang akan pulang dengannaik kereta.

"Jadi pulang?" sms sent to Wildan

"Insyaallah, nanti sore naik kereta," balasnya singkat.

Yess! Aku meloncat kegirangan. Setengah misiku berhasil, dia pulang naikkereta. Tinggal ku luncurkan misi selanjutnya.

Persis setelah shubuh aku bersiapa-siap. Saat mudik dia selalu melewati kota tempat tinggalku. Dulu aku pernah menjemputnya tepat jam 05.00 pagi, bedanya hari ini tanpa tahu naik kereta apa dan akan tiba jam berapa. Benar-benar hanya bermodal visualisasi tempo hari.

Dengan motor butut Ayah, kususuri jalanan yang masih lengang. Hanya hawa dingin sesekali menusuk tulang. Embun yang masih bergelayutan serempak menertawakan apa yang aku lakukan. Ah, masa bodoh! Hanya Wildan seorang dalam otakku sekarang.

Sampai di stasiun kereta, petugas bilang bahwa jam 05.00-05.30 ada tiga jenis kereta dari utara. Masing-masing hanya berhenti 5-10 menit saja. Apa?! Serasa disambar petir di pagi buta, bagaimana mungkin aku menemukan satu orang diantara ratusan penumpang hanya dalam waktu kurang dari 10 menit? Ah, ini gila! "Ya sudahlah, terlanjur kepalang basah. Bukankah dari awal tindakanku ini memang sudah gila?" Batinku berbisik menenangkan diri sendiri yang mulai diterkam panik.

05.45 WIB

Di salah satu pos bekas pangkalan ojek stasiun tampak seorang gadis berkerudung biru duduk membisu. Di sudut yang lain seorang pria bertopi mulai menyulut sebatang rokok. Seperti dua orang yang kebetulan terjebak hujan, berteduh di bawah satu atap. Saling berjauhan, membisu hanya sesekali melirik. Mereka tak lain ialah aku dan Wildan. Sama persis dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, selalu duduk saling berjauhan. Pernah suatu ketika aku iseng menggodanya.

"Apakah kamu tidak ingin sesekali duduk lebih dekat denganku?"

"Hahahaa..ternyata diam-diam kamu berharap aku dekati juga? Jangan-jangan ingin dipegang dan dibelai juga, layaknya sepasang kekasih pada umumnya itu ya?" Bukannya menjawab, eh dia malah terkekeh meledekku.

"Hmmm..ini serius Wil. Hanya ingin tahu saja seberapa besar keistiqamahan-mu itu." -week- Kujulurkan lidah membalas ledekannya.

"Sebenarnya iman tak seteguh itu. Aku menghormati usahamu dalam menutupi aurat, menjaga kesucianmu. Terlebih aku juga malu pada kerudung lebarmu," jawabnya serius.

Memang selama enam bulan kita menjalin hubungan "entah" ini, tak pernah sekalipun kita duduk berdekatan, palagi sampai pegang-pegangan layaknya pemabuk asmara pada umumnya.

Wildan adalah kakak teman kerjaku. Sebenarnya sejak awal pernyataan cintanya dia inin langsung mengkhitbahku, tapi aku menolaknya. "Tunggu dulu aku belum siap jadi istri apalagi jadi seorang ibu," jawabku saat itu. Tak dinyana Wildan dengan senang hati menunggu.

Ah, tapi itu dulu, enam bulan yang lalu. Ternyata takdir tidak berpihak padaku. Mimpi tinggalah mimpi. Semuanya kandas bersama datangnya Wildan ke rumahku. Ayah tak mau menemuinya. Beliau bersikeras menolak hubungan kami. Apalagi kalau sampai menikah, Ayah takkan pernah merestui. Ibuku setuju dengan niat keseriusan kami, tapi apalah daya tak mungkin ibu bisa menentang keputusan Ayah. Dan aku? Sudah tentu sangat terluka. Bahkan hingga detik ini, saat aku bisa bertemu Wildan lagi. Luka itu masih menganga.

---***---

Semua berjalan persis seperti bayanganku dalam meditasi gila tempo malam. Entah darimana datangnya keajaiban ini. Dalam 10 menit dengan mudah aku menemukan Wildan, hanya setelah menyusuri dua gerbong kereta. Terlalu ajaib kan? Aku sendiri juga tak percaya.Meski sempat mogok, namun akhirnya dia mau turun juga.

Seumur-umur baru kali ini aku turun dari kereta, dengan cara melompat ketika kereta sudah mulai melaju. Hari ini memang hari paling gila!"Kenapa kamu melakukan tindakan sebodoh ini?"Hembusan asap rokoknya meracuni segarnya udara pagi. Dengan nada datar dan pandangan sengaja dibuang ke jalan raya di seberang sana, dia menanyakan itu padaku."Tidak tahu." Jawabku seperti orang bodoh."Bagaimana jika tak menemukanku, memasuki kereta yang salah atau bahkan ikut terbawa kereta?" cerocosnya. Aku hanya bisa diam."Apa maumu?!" Mendadak nada bicaranya ketus. Baru kali ini dia begitu ketus. Aku masih tetap membisu, menunduk, reflek jari-jariku memainkan ujung kerudung. Mataku mulai berkaca-kaca.

"Sudahlah Nissa..." sepertinya dia mulai menyadari perasaanku, bicaranya mulai melembut seperti dulu.

"Percuma saja, Ayahmu takkan pernah bisa menerimaku. Mungkin benar yang beliau katakan padamu, kamu tak mungkin bisa hidup bahagia jika menikah denganku."

"Tapi kita belum mencoba. Paling tidak berusahalah dulu meyakinkan hati Ayah. Luluhkan hatinya, tunjukkan bahwa kamu benar-benar menyayangiku." Aku mencoba menawar keputusannya.

"Tidak Annisa. Aku terlanjur sakit hati. Ayahmu telah menginjak-injak harga diriku," jawabnya kembali ketus.

"Jadi karena itulah kamu menjauhiku, sebab dendam pada ayahku? Ternyata hatimu tak seberlian yang aku kira Wildan, aku kecewa padamu!" Tumpahlah air mataku hati ini serasa dimutilasi hidup-hidup.

"Terserah prasangka kamu. Aku sudah tak peduli."Seketika itu juga dia berdiri. Berjalan meninggalkanku seorang diri, yang mulai hanyut dalam sungai air mata.

Aku menangis sejadi-jadinya. Setelah penuh perjuangan keras untuk bisa bertemu dengannya, ini yang aku dapat? Sederet luka menganga dan air mata belaka? Tak ku sangka Wildan seorang yang tak mudah memaafkan orang lain. Mulai detik itu juga aku bersumpah tak akan pernah menemuinya lagi.

---***---

Tak terasa bulan Ramadhan pun datang lagi. Berarti hampir 2 tahun ini aku tak pernah mendengar kabar Wildan. Setelah peristiwa di stasiun kereta itu, tak sekalipun aku menghubunginya apalagi mencari tahu tentangnya. Kecewa menyelimuti hati tapi hingga detik ini sang otak tak jua bisa melupakan sosok Wlidan. Apakah karena dia sudah terlanjur terulir indah dalam bilik hatiku? Ah entahlah...

Ramadhan kali ini, aku hanya ingin bercinta dengan-Nya. Melewati malam dengan sujud panjang di depan Sang Maha Cinta. Hatiku telah mati asa. Pasrah kuserahkan semuanya kepada Dia yang Maha Mengatur alam semesta. Dalam setiap akhir munajatku lirih kulantunkan do'a;

Ya Rabb.. Yang Maha Membolak-balikkan hati
Yang Maha Wenang memutar balikkan keadaan
Seluruh alam semesta tunduk pada perintahmu
Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Mu
Seekor semutpun tak akan mati tanpa seijin-Mu

Ya Allah, Rabbul Haq
Jika aku dan Wildan berjodoh
Satukanlah kami, dengan cara terbaik menurut Engkau
Lapangkanlah hati Ayah agar mau menerimanya
Bukakanlah pintu ma'af seluas-luasnya di hati Wildan
Lembutkanlah hatinya untuk memahami sifat Ayah

Dan kalau kami tidak berjodoh
Berikanlah kelapangan dan keikhlasan pada hati kami
Pertemukanlah ia dengan jodohnya,wanita yang tulus menyayanginya, yang menyenangkan dan menentramkan jiwanya
Allahuma aamin...

---***---

Hari raya Idul Fitri kali ini aku habiskan di rumah saja dengan sanak keluarga. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tak ada hasrat kemana-mana bahkan sekedar berkumpul dengan teman lama pun tidak. Sudah 3 hari ini aku hanya bermalas-malasan di kamar. Kontrak kerja sudah berakhir sejak sebelum ramadhan kemarin. Tumben juga santai saja, tak heboh mencari lowongan kerja kesana-kemari,"Kliring.. Kliring.."

"1 new mwssage"Dengan sangat malas ku buka sms yang baru masuk.

"Nissa bidadariku, besok dandan yang cantik ya. Insyaallah aku dan keluarga akan datang ke rumah. Melamar putri cantik tuan rumah."

Mataku langsung terbelalak, detak jantung berdentum tak karuan, keringat membanjiri seluruh tubuh. Dengan tangan yang gemetar dan dada bergemuruh ku baca berulang-ulang sms itu. Tanpa basa-basi pria yang terlanjur terukir abadi di hati ini menghubungiku lagi. Dengan kalimat sekstrim ini? Wildan?! Benarkah ini kamu?

--- *** ---

Dengan wajah tertunduk malu -malu ku bawa senampan minuman untuk para tamu.

"Annisa, duduk sini Nak.. di samping Ayah." Suara Ayah menyegarkan tegangnya ruangan. Acara yang diakhiri dengan anggukan kepalaku ini pun berjalan lancar, dan tercapailah kata mufakat.

--- *** ---

Sambil menunggu para tamu undangan aku berbisik pada Ibu.

"Bu, bagaimana Ayah bisa langsung setuju?" Ibu terkekeh lalu membisikkan sesuatu di telingaku.

"Ini rahasia. Sebenarnya ayahmu sejak pertama sudah setuju. Ia hanya ingin menguji seberapa kuatkah cinta kalian, terutama Wildan. Ayah salut sama kalian, bertahan sampai badan kurus begitu. Tadinya ibu kira hubungan kalian sudah expired loh."

Jleb! Aku menelan ludah.

"Ini mah bukan menguji tapi membui, membunuh tanpa melukai. Jelas saja badanku jadi kerempeng begini," gumamku dalam hati.

--- *** ---

Setelah kami menikah aku baru tahu rahasia Wildan, suamiku. Kenapa saat itu tanpa ba bi bu dengan pede-nya langsung mengirim sms khitbah padaku. Ternyata selama 2 tahun kita berpisah, dia rajin menghubungi sahabat sekaligus teman curhatku. Sekedar ingin tahu bagaimana kabarku dan pastinya juga perasaanku. Oh so sweet Parahnya sahabatku dengan polosnya selalu saja menceritakan perasaanku, bahwa aku masih selalu mencintainya dalam do'a.

Hmmm...Pantesan aja.

--TAMAT--

~(masih untuk cahya)~

Aku tak berani memilihmu
Karena kau bukan untuk dipilih
Tapi aku meng-imani ; Allah menitipkan cinta kepadaku untuk diberikan padamu
Dan Allah juga "sengaja" menciptakanmu dari sebagian tulang rusuk-ku
Inspired by : mba Asma Nadia
#Senja_Cahya

Jumat, 15 November 2013

Jadi... Pilih Cinta atau Beras



Real-nya "Beras lebih penting dari cinta".
Tapi...
"Hidup tenang karena cinta, jauh lebih penting dari pada beras"

Note : Kalau ngga ada beras, kan masih bisa makan ROTI hehehehe

Kamis, 14 November 2013

KEBOHONGAN CINTA by : Neny S.


Semalam aku tersedu sedu. . .benar, tersedu sedu, sampai terbawa tidur bahkan sampai pagi ini.
Sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan, buah dari kejujuran, kepolosan, keluguan dari suamiku?

Mau tahu?

Ternyata aku masih seorang wanita biasa, yang mudah terluka karena sebuah kenyataan yang tak sesuai harapan. Aku pikir, he he he, aku sudah banyak berbeda dengan wanita pada umumnya, bukan sombong, tapi aku merasa sudah berusaha keras untuk menjadi wanita yang tidak biasa.

Kemarin, aku pergi silaturahim ke tempat ibu hanya bersama sibungsu, sehari semalam kami di sana. Selain menuntaskan rindu dan mendengar suara hati ibu, aku juga sempat berbincang dengan adikku yang tinggal bersama ibu, biasalah,masalah rumah tangga dan keluarga.

Sehari semalam kutuntaskan rindu pada ibu dan adikku, karena ada rindu lain yang membawaku segera pulang. Gegap gempita kakak sibungsu menyambut kami, celoteh riang bergantian dari mulut mereka, tak sabar menunggu giliran tuk bicara. Itulah anak anak, mereka begitu ekspresif dan spontan.

Bagaimana denganku dan suami sebagai orang dewasa? tiba tiba saja terbetik dalam benakku, rindukah dia padaku? he he he iseng juga nih, soalnya aku jarang berpisah, apalagi aku yang pergi. Biasanya suami yang pergi beberapa hari ketika ada keperluan ke luar daerah, itu juga tidak terlalu lama, hanya beberapa hari.

Masih terbawa obrolanku dengan adik, malam itu aku ngobrol santai dengan suami berkisar masalah cinta. Tentang perjalanan hidup rumah tangga kami yang sudah berjalan lebih 20 tahun.
Apakah ini pertama kalinya kami ngobrol tentang masalah ini? Tidak juga, tapi entahlah, akhir obrolan malam ini begitu tragis!

Sebuah kejujuran tentang hati!
Suamiku nggak pernah bohong, hanya kadang kadang menyampaikan informasi tertentu saja yang ditunda, he he bedakan?
Terobsesi dengan cerita orang lain tentang kisah cinta dan rumah tangganya, koq aku pengen dengar dari suami tentang kisah cinta di hatinya.

Selama ini aku sering tanya tentang masa lalunya, tak ada yang disembunyikan, semua tentang gemerisik hatinya tentang perempuan perempuan yang sempat mampir dihatinya, diceritakannya. Dari mulai khayalan tentang perempuan seperti apa disukai di masa kanak kanaknya ketika nongkrong di wc, dengan teman teman perempuan di masa SMP dan SMA yang pernah ditaksirnya. Masa kuliah dengan beberapa nama yang sempat jadi pertimbangannya, tetapi dari semua itu belum ada yang sampai pada jadian atau komitmen tentang kesetiaan, pacaran atau rencana pernikahan. Yang paling maksimal sampai pada ta'aruf, perkenalan dengan keluarga pihak perempuan, yang sebelumnya juga tisak ada komitmen apa apa. Itu pengakuannya.

Kami sedang belajar jadi orang tua. Anak kami sudah ada yang remaja, hampir dewasa. Masalah perjodohan anak sudah mulai kami fikirkan, untuk itulah aku mulai mengorek ngorek hati suami, berusaha memahami posisi laki laki, karena anak kami juga ada yang laki laki.

Awal kutanyakan," Ketika seorang laki laki, seorang suami rindu pada istri, yang mendominasi itu rindu fisik atau rindu hati, rindu rasa, rindu suasana?"
Aku tidak tahu, apakah pertanyaanku sudah benar, apakah penerimaan suamiku sudah sama dengan apa yang kumaksud dengan pertanyaan itu.

Suamiku menjawab," Tidak tahu apakah ini berlaku untuk semua laki laki, tapi dari obrol obrolan dengan teman teman ketika sedang bertugas di lapangan, berpisah dengan istri beberapa hari, jawabannya ya rindu fisik."

Deg! aku sempat tersinggung, begitukah? Jadi selama ini yang dirindukannya adalah fisikku semata? Eh diakan bilangnya nggak pake semata? ah... mulai lebay!
Koq tersinggung ya? memang maunya dirindukan apanya? Kalau rindu ingin bertemu, jelas fisiknya. Kalau nggak rindu fisik, ya nggak perlu bertemu.
Trus yang kurindukan darinya apa? fisiknya bukan ya? apa karena malu mengakui jadi tersinggung? sebenarnya aku rindu fisik juga kan? ah... nggak bisa jawab! Apa rindu duitnya? uuuuh dasar, matre!

Aku juga nggak seratus persen percaya koq dengan jawabannya, melihat caranya yang tidak menatapku ketika mengatakannya, dan lagi kitakan nggak boleh percaya seratus persen kepada selain Allah.

Ketersinggun hati kutahan, karena aku juga nggak tahu, mauku dijawab apa? jawaban yang menyenangkan hatiku apa? mengapa tersinggung? Entahlah! Tersinggung ya tersinggung.

Aku dan suami menikah tanpa pacaran lebih dahulu, bahkan seingatku, bicara langsungpun belum pernah walaupun kami teman satu kampus, sama sama aktif di masjid kampus. Tapi belum pernah ada kegiatan bersama yang memberi alasan kami untuk bicara.

Kami menikah karena perjodohan kami difasilitasi sistem dakwah yang kami terlibat di dalamnya. Tak ada keterpaksaan, kami menjalaninya dengan ridho.

Kemudian  aku ajukan pertanyaan kedua," Apakah ketika memutuskan untuk meminangku karena ada rasa seeer di hati, yang dianggap orang sebagai rasa cinta?"

Jawabnya,"Tidak ada. Semata mata mengikuti prosedur."

Jebol! Pertahanku ambrol, tak dapat di hambat lagi. Menangis! Benar benar menangis. Tersedu! Andai tak takut mengganggu, mungkin aku akan menangis seperti ketika sibungsu terluka karena jatuh, hooooa, hoooa!
Kupuaskan dongkol hatiku, sakit! Menangis sepuasnya, tak perduli esok hari mataku kan bengkak dan tak bisa belanja pagi, maluuuu.

Setelah puas, ku pergi ke kamar mandi, bebersih diri. sebelum tidur kusempatkan sholat witir, menangis lagi. Seberapa banyak simpanan air mataku? koq masih juga keluar. Kuberusaha untuk pasrah, tawakal. Ku pergi tidur dengan tenang, tak ada pengobat rindu. Salah sendiri jawabannya tak menyenangkan hatiku!

Benar, bangun tidur mataku bengkak, heeh, nggak belanja dong. Dah, masak yang ada di kulkas aja.
Beres masak aksi diam kulanjutkan, sakit hatiku belum hilang. Ku buka internet, mulai berselancar. Ku awali dengan membaca status di fb. Tak biasanya, kali ini aku agak teliti membaca status para fber, sampai mataku terpaku pada salah satu status itu, nih dia statusnya. klik saja.
http://www.merdeka.com/sehat/ternyata-pria-tak-hanya-bohong-soal-orgasme-saat-bercinta.html
Benarkah? Aku tak mudah terprovokasi, tapi karena sedang cocok dengan kondisiku, koq ada pengaruhnya juga ya? Mulailah logikaku berjalan lebih sehat.

1. mengapa selama ini aku tidak pernah mempertanyakannya?
2. bukankah desir hati itu hanya orang bersangkutan yang merasakannya?
3. dari sikapnya, adakah yang menunjukkan bahwa dia membenciku? tak suka atau tak cinta ?
4. ungkapan verbalkan hanya pengakuan, cinta atau tidak itu ada di hati. Tak ada jaminan ungkapan sebagai cerminan hati seluruhnya, bisa jadi dia malu mengakuinya, atau dia tidak bisa membedakannya, rasa apakah dihatinya, cintakah, sayangkah, senangkah?

Mengapa aku tidak senang dengan kejujurannya? Ah, ternyata aku masih seperti wanita biasa, yang suka dibohongi dengan sesuatu yang menyenangkan hati. Terkadang, jujur memang pahit!!

Akhirnya kuakui dengan jujur. klik  http://nenysuswati.blogspot.com/2013/11/cemburu.html

Rabu, 02 Oktober 2013

Novel "AMELIA"

“Karena kau harus tahu, air mata dari seseorang yang tulus hatinya, justeru adalah bukti betapa kuat dan kokoh hidupnya. Tidak ada yang keliru dengan tangisan."

#Tere Liye

semestinya kau paham

Tanpa cinta dan rindu yang terucap, pun semestinya kau paham dengan tatap mata yang selalu merindumu cahyaku....

mungkin

Mungkin kau merasa telah mati
Tapi di dalam hatinya, kau akan terus menghidupi

Jangan salahkan angin


"Daun yang gugur tak pernah menyalahkan angin"

pesan orang tua senja

"Menikah itu bukan mempermasalahkan seberapa buruk masa lalu seseorang,
 namun seberapa banyak ia belajar dari masa lalunya"

Rabu, 25 September 2013

mimpi

Dia bermimpi melewati hari bermasa-masa dan bersama-sama denganmu dalam satu atau dua masa mendatang,,,,

Selasa, 24 September 2013

esok

Semoga esok ia terlahir kembali
bukan dari air mata,
tapi mata air yang terpancar disela-sela fajar......

seharusnya laki-laki........

terkadang.... laki-laki seharusnya tak perlu malu pada air matanya sendiri

Minggu, 01 September 2013

"Seharusnya kau tau,,"

Kau tanyakan itu kepadaku???

"Seharusnya kau tau,, dia menantikanmu diujung dermaga pada sepotong senja"