PUISI ESSAI
Karya Luthfia
/1/
Simbok...
Telepon mu kembali berdering, bukan
Satu salam cium hangat dariku yang kembali tak bisa pulang
Lihat
Disini aku masih menadah kerin gat bersama rekan
Mengibarkan bendera merah puti h yang berwujud baru bermakna usang
Terkoyak arti oleh mentrinya s endiri
/2/
Simbok...
Satu rindumu yang ku terima mi nggu lalu
“Rinai... Tak lagi bersisa sat u kepeng dalam jelanga,
Maafkan simbok yang tak sanggu p salurkan nasi wayu atau seke dar
Terigu, kau akan baik-baik saj a bukan? Bersabarlah hingga ba pak
Pulang membawa segatang uang. Hadiah president katanya.”
Aku hanya meng-iya-kan,
Teringat nun jauh di rumah san a simbok memikul dua gendongan
Menjajakan krupuk di pinggir j alanan
Mana bisa duduk saja seperti p ara pelayan yang menjelma raja
Dan kau lihat...
Raja-raja mereka melepuh tanga n, berkapal kaki hanya tuk men cari sesuap nasi
/3/
Simbok...
Maaf sebenarnya ini alasan ku tak pulang
Disini anakmu Rinai, tengah so k-sok an mengadili
Sedikit tak peduli mati
Karna kami ini adalah putra ma hkota raja, yang diiming singg asana
Dan mereka para pelayan yang m ensabotase hak kami!
Disini kami tak hanya berteria k memaki
Disini kami tak hanya membakar gelora anarki
Disini kami tak hanya membloka de jalan tanpa tujuan
Kawan-kawan dan Rinai, anakmu sedang bergulat dengan bau jal anan, mejejalkan kisah melek p eradaban
/4/
Simbok...
Masih ingatkah apa yang kau aj arkan dahulu tentang harga mat i
“Kehormatan negri adalah bagia n dari keimanan diri.”
Melihat mereka yang disumpah a tas nama kitab suci
Lantas menginjaknya tak lebih dari sampah yang dibuang di pi nggir kali
Bukan mereka pula yang mengeca m
Ketika kitab-kitab suci akan d ibakar?
Bagiku mbok...
Mereka lebih dari apa yang kau lihat dari sebuah perang fisi k mengantarkan
Kesucian ajaran pada api
Dan anakmu yang tak bisa pulan g ini mencoba berjihad bathin lewat kitab suci yang kami acu ng tinggi
/5/
Simbok...
Ini masih Rabu pagi, dan satu ikat bendera perah putih menja di saksi
Kami para pemuda anak raja yan g hampir dicekik mati oleh pel ayan sendiri
Berduyun mengobarkan semangat cinta
Bendera damai yang kami kobark an adalah lagu Indonesia raya
Yang kini hanya sebagai mataha ri mati di hari senin
Bendera damai yang kami kibark an adalah peti mati yang bertu liskan nama negeri
Yang entah mungkin tak bernyaw a lagi
/6/
Simbok....
Masih berbekas ingatan di hari sendu
Laju hari yang berjalan begitu tak tentu
Seluruh Mahasiswa berjiwa ksat ria meringsek mengerek bendera
Memenuhi alur pejalan kaki, se peda dan mobil-mobil milik par a pejabat negara
Berteriak mengumandangkan lagu Indonesia raya, mengajak para sesepuh tua pe-sepeda
Berhenti mengenang masa muda, masa muda yang mengkebiri keme rdekaan mereka
Kami berdiri hormat mengingink an mereka pejabat bermobil mew ah sejenak mengheningkan cipta
Mendengarkan lagu sedih rakyat jelata, tentang isi-isi bungk us nasi mereka yang kian rata
Para tetua yang kehilangan tan gan atau kaki mereka
Atau bangsa macan yang kehilan gan taringnya
Kami menunduk sendu, menyanyik an lagu dengan haru
Mereka para pe-sedan mewah rib ut berebut nada sumbang dengan klakson mobil
Pamerkan derit-derit suara sam pah mereka dengan serapah yang bagi mereka terhormat tentuny a
Tidakkah kalian dengar...
Kami sedang mengumandangkan la gu kebangsaan,
Bukan salah jika kami mengebra k kaca mobilmu!
Bukan salah jika kami memuntah kan satu dua balasan serapah j itu
/7/
Simbok...
Kini masih di Rabu pagi,
Rinai anakmu tak sedang mengin gatkan hari ketika BBM dinaikk an
Atau ketika melihat penjara pa ra pelayan raja bak istana
Berjajar dipelataran hanya men yalurkan nada sumbang
ah...simbok
Aku rinai anakmu masihlah gadi s lugu
Seperti pesanmu dulu saat hend ak ku berangkat menimba ilmu
“Janganlah kau jadi para pende monstran seperti di layar cemb ung
Hanya berkata dan berteriak ug al-ugalan memenuhi jalanan
Tak jelas sumpah serapah yang mereka teriakan.” katamu bukan ?
Maaf, aku anakmu Rinai memang masih seperti dulu
Lugu tersenyum malu-malu
Jika seorang laki-laki merayu
Tapi jiwaku tak lagi merah jam bu
Jiwa srikandi mungkin moksa da lam ragaku
Biarkan aku tegak berdiri disi ni mbok
Menenteng bendera pusaka, meny anyikan Indonesia raya
Demimu, Demi bapak, Demi selur uh raja yang mengemis di neger i sendiri
/8/
Dari jalan kami bergerak
Menyebrang jalanan yang seakan tengah berarak
Menghentikan sejenak kesibukan pertigaan Kampus
Yang hingga tengah malam tak p ernah pupus
Tak luput di mata kami
Mereka sibuk mengencangkan sab uk yang melilit bak kekang kud a
Menahan nafas hendak berserapa h atas kami Mahasiswa
yang mungkir dari sibuk mereka
Dan darah yang menggelagak men gangkat kepal tangan kiri lebi h keatas
Dipandu kakak senior kami bern yanyi keras
“Disini negri kami, tempat pad i terhampar
Samudranya kaya raya
Negri kami subur tuhan
Di negri permai ini berjuta ra kyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas hak nya tergus ur dan lapar
Bunda..relakan darah juang kam i untuk membebaskan rakyat
Mereka dirampas haknya tergusu r dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berbakti
Padamu kami mengabdi.”
Dalam isak tangis mengenang ba ngsa
Sempat kuselipkan do’a
/9/
Oh tuhan ini tanganku yang tak berdaging
Bertulang kecil berkulit tipis , hitam tak lagi manis
Saksi atas perjuangan kami yan g mereka sebut dengan pemberon takan sia-sia
Oh tuhan ini kakiku tak jua di sebut jenjang
Bukan tuk dipertontonkan layak nya putri-putri yang berdiri m eludahi tubuh sendiri
Kering, kasar tak pula bentuk rupawan
Saksi perjalanan bergulat deng an tar dan terotoar menyambung kan lidah
Para penjaja jalanan, para rak yat kelaparan, yang uangnya me reka jejalkan
Dikantong-kantong perawan jala ng
Oh tuhan ini hatiku, rapuh, te rluka oleh sembilu
Berdarah atas parang janji men tah, yang di koar-koarkan di p elosok negri sembari berbagi “ mie”
Dia menangis menyaksikan “Inda hnya Negeri ini.”
Oh Tuhan, yang Maha Besar
Ku tahu mungkin Kau telah terl alu murka hingga acuhkan neger i kami
Mungkin Kau terlalu bosan mena tap para tikus
yang hidup makmur bak di ladan g subur
Mungkin Kau telah jemu
Menghukum angkara yang tak kun jung jera
/10/
Rehat sejenak tak jadi pengend or semangat
Rinai masih di ujung hujan yan g kian beranak
Membiarkan para pejalan yang t erlihat kian berpinak
Peluit-peluit polisi mulai men gendurkan jalanan yang
Seperti berbatu kali
/11/
Dan duduk di selasar jalanan
Menatap rombongan para manusia picisan
sok-sok an mentereng di balik tangkupan ketiak sedan pinjama n
Duduk saja kami mengangkang
Saling tukar bekas ludah dalam mineral gelasan
Hilang dahaga,
bukan berarti hilang pula nada perubahan dalam dada
Hak Rakyat harus dibela
Uang rakyat mesti diletakan di tempatnya
/12/
Simbok...
Tak ubahnya tentang kami yang sedang berjihad
Ini cara kami untuk sedikit me laknat para keparat
Bukan sok suci
Tapi memang hanya ini cara kam i
Simbok... Ini Rinai anakmu
Kembali minta restu
Ber-bharatayuda di medan laga jalanan kota
/13/
Bukan di layar cembung kita en gkau juga menatap
Sidang ketua pengadil rakyat t engah sekarat
Terjerat hukum berkarat
Tuntutan potong tangan kiat me lesat
Hukum mati bahkan kini menjadi pilihan tanpa syarat
Kami hanya tak ingin melihat
Mereka para pendusta
Memiliki hotel di balik penjar a
/14/
Dan berita tentang anakmu yang kian ramai
Dibawa oleh teman setanah land ai
Membawamu dalam perhelatan mas ai
Maaf mbok... Aku tak bisa pula ng
Alasan sebaku yang ku berikan memang hanya dusta pilihan
Tak sanggup ku mengatakan jika
Anakmu, Rinai tengah melempar orasi di jalanan
Kau yang menelfon pagi itu
Memintaku pulang
/15/
“Pulang anakku sayang, sadarla h yang kau lakukan
Hanya sebuah kesia-siaan,
Adakah kayu berubah menjadi mi nyak setelah kau berdemo?
Adakah harga panganan mendadak recehan setelah kau berkoar
Menyemarakan kata-kata serapah untuk para petinggi tak berha ti?
Sudahlah anakku,
Tak ridho simbok jika pergimu hanya untuk
Berjibaku dengan aspal trotoar
Hanya untuk bernyanyi dan sali ng melempar batu di jalanan.”
Ku bayangkan setitik embun men gangantung angan
/16/
Maaf simbok...
Bukan karna darahku darah muda
Atau geloraku gelora Bung Karn o ketika Indonesia Merdeka
Ini tentang aku yang tak sangg up menatap
Tangan ringkihmu terbebani beb an berat
Memikul segantang krupuk
dan berkeliling desa-desa tak terlihat
Dan mereka yang duduk sebagai pejabat
Lihai benar berjanji keparat
Katanya kami datang dengan ben dera besar pengobar kebenaran
Membawa jalur perdamaian untuk rakyat sekalian
Cih......!!!
/17/
Maaf simbok...
Kini biarkan Rinai kembali ber diri
Menantang hukum yang kian tak pasti
Satu hari masih di Rabu pagi
Satu hati bersama para pemuda negri
Kami maju berkolaborasi
Membakar keranda meminta hukum mati
Berdrama memotong jari
/18/
Satu tembakan panjang milik se rdadu polisi
Tak setuju dengan perlakuan ka mi
Mulai panas hari panas hati
Kobaran semangat milik pelantu n lagu Padamu Negri
Memperkokoh niat penuntutan hu kum maxi
“Had atau mati”
/19/
Pembakaran keranda
berlajut pada pembakaran repli ka
Sejenak polisi mulai geram
Menilat kami yang tak kunjung redam
Tembakan gas mulai menyerang
Satu persatu berlari tunggang langgang
Walau ada tetap yang kokoh ima n
Meringsek maju menantang di me dan laga
Tetap saja kami yang tak berse njata kalah rasa
Pedih mata mulai terasa
Pukulan tongkat mulai punya ma ta
Katanya harus waspada mengejar mangsa
/20/
Ah...simbok
Rinaimu tak sanggup lari
Bayang wajah para penjaja kora n
Atau nenek pencuri sebiji kaka o semakin menguatkan
Hukum negri perlu penjagaan
Mahkamah Konstitusi bukanlah D ewa!
Apalagi Tuhan yang maha esa
Bukankah mereka diperlakukan s emena?
Dan apa pendapat petinggi negr i
Meraka hanya geleng kepala.
/21/
Simbok...
Biarkan Rinai memejamkan mata
Merasakan pukulan yang malang melintang mulai mendera
Entah dari batu yang seperti h ujan raga
Atau dari gas yang memedihkan mata
Simbok...
Maafkan Rinai, karna masih tet ap tak bisa pulang
Ikut merayakan pernikahan aban g
Biarkan Rinai, berdiri mengulu m matahari disini
Dan berharap tak kulihat lagi
Nasib para jelata di pinggiran kota
/22/
Masih di rabu pagi,
Sisa keranda putih hanya menja di saksi
Beginilah nasib hukum negeri k ami
Mati
Sepi
/23/
Dan sekali lagi telpon ku berd ering
satu nama berkedip manja
“Pergilah anakku, Simbok tak l agi bisa melarangmu
Hanya satu doa terselip di tah ajudku
Allah, Jauhkan Rinaiku dari du ka
Dari nestapa juga dari bahaya
Jika ini jalan jihad yang kau pilih nduk
Kobarkan atas nama membela neg ara
Dan mereka yang tertindas atas nama hukum
Yang kian tak kentara.”
/24/
Simbok...
Ini anakmu Rinai berjanji tuk pulang
Membawa sekerat janji yang tak lagi berlubang
Hanya saja
Entah tiba-tiba sebuah batu da tang
Dan gelap semua terbang
Simbok, Rinai tetap berjanji u ntuk pulang
Telepon mu kembali berdering,
Satu salam cium hangat dariku
Lihat
Disini aku masih menadah kerin
Mengibarkan bendera merah puti
Terkoyak arti oleh mentrinya s
/2/
Simbok...
Satu rindumu yang ku terima mi
“Rinai... Tak lagi bersisa sat
Maafkan simbok yang tak sanggu
Terigu, kau akan baik-baik saj
Pulang membawa segatang uang.
Aku hanya meng-iya-kan,
Teringat nun jauh di rumah san
Menjajakan krupuk di pinggir j
Mana bisa duduk saja seperti p
Dan kau lihat...
Raja-raja mereka melepuh tanga
/3/
Simbok...
Maaf sebenarnya ini alasan ku
Disini anakmu Rinai, tengah so
Sedikit tak peduli mati
Karna kami ini adalah putra ma
Dan mereka para pelayan yang m
Disini kami tak hanya berteria
Disini kami tak hanya membakar
Disini kami tak hanya membloka
Kawan-kawan dan Rinai, anakmu
/4/
Simbok...
Masih ingatkah apa yang kau aj
“Kehormatan negri adalah bagia
Melihat mereka yang disumpah a
Lantas menginjaknya tak lebih
Bukan mereka pula yang mengeca
Ketika kitab-kitab suci akan d
Bagiku mbok...
Mereka lebih dari apa yang kau
Kesucian ajaran pada api
Dan anakmu yang tak bisa pulan
/5/
Simbok...
Ini masih Rabu pagi, dan satu
Kami para pemuda anak raja yan
Berduyun mengobarkan semangat
Bendera damai yang kami kobark
Yang kini hanya sebagai mataha
Bendera damai yang kami kibark
Yang entah mungkin tak bernyaw
/6/
Simbok....
Masih berbekas ingatan di hari
Laju hari yang berjalan begitu
Seluruh Mahasiswa berjiwa ksat
Memenuhi alur pejalan kaki, se
Berteriak mengumandangkan lagu
Berhenti mengenang masa muda,
Kami berdiri hormat mengingink
Mendengarkan lagu sedih rakyat
Para tetua yang kehilangan tan
Atau bangsa macan yang kehilan
Kami menunduk sendu, menyanyik
Mereka para pe-sedan mewah rib
Pamerkan derit-derit suara sam
Tidakkah kalian dengar...
Kami sedang mengumandangkan la
Bukan salah jika kami mengebra
Bukan salah jika kami memuntah
/7/
Simbok...
Kini masih di Rabu pagi,
Rinai anakmu tak sedang mengin
Atau ketika melihat penjara pa
Berjajar dipelataran hanya men
ah...simbok
Aku rinai anakmu masihlah gadi
Seperti pesanmu dulu saat hend
“Janganlah kau jadi para pende
Hanya berkata dan berteriak ug
Tak jelas sumpah serapah yang
Maaf, aku anakmu Rinai memang
Lugu tersenyum malu-malu
Jika seorang laki-laki merayu
Tapi jiwaku tak lagi merah jam
Jiwa srikandi mungkin moksa da
Biarkan aku tegak berdiri disi
Menenteng bendera pusaka, meny
Demimu, Demi bapak, Demi selur
/8/
Dari jalan kami bergerak
Menyebrang jalanan yang seakan
Menghentikan sejenak kesibukan
Yang hingga tengah malam tak p
Tak luput di mata kami
Mereka sibuk mengencangkan sab
Menahan nafas hendak berserapa
yang mungkir dari sibuk mereka
Dan darah yang menggelagak men
Dipandu kakak senior kami bern
“Disini negri kami, tempat pad
Samudranya kaya raya
Negri kami subur tuhan
Di negri permai ini berjuta ra
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas hak nya tergus
Bunda..relakan darah juang kam
Mereka dirampas haknya tergusu
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berbakti
Padamu kami mengabdi.”
Dalam isak tangis mengenang ba
Sempat kuselipkan do’a
/9/
Oh tuhan ini tanganku yang tak
Bertulang kecil berkulit tipis
Saksi atas perjuangan kami yan
Oh tuhan ini kakiku tak jua di
Bukan tuk dipertontonkan layak
Kering, kasar tak pula bentuk
Saksi perjalanan bergulat deng
Para penjaja jalanan, para rak
Dikantong-kantong perawan jala
Oh tuhan ini hatiku, rapuh, te
Berdarah atas parang janji men
Dia menangis menyaksikan “Inda
Oh Tuhan, yang Maha Besar
Ku tahu mungkin Kau telah terl
Mungkin Kau terlalu bosan mena
yang hidup makmur bak di ladan
Mungkin Kau telah jemu
Menghukum angkara yang tak kun
/10/
Rehat sejenak tak jadi pengend
Rinai masih di ujung hujan yan
Membiarkan para pejalan yang t
Peluit-peluit polisi mulai men
Seperti berbatu kali
/11/
Dan duduk di selasar jalanan
Menatap rombongan para manusia
sok-sok an mentereng di balik
Duduk saja kami mengangkang
Saling tukar bekas ludah dalam
Hilang dahaga,
bukan berarti hilang pula nada
Hak Rakyat harus dibela
Uang rakyat mesti diletakan di
/12/
Simbok...
Tak ubahnya tentang kami yang
Ini cara kami untuk sedikit me
Bukan sok suci
Tapi memang hanya ini cara kam
Simbok... Ini Rinai anakmu
Kembali minta restu
Ber-bharatayuda di medan laga
/13/
Bukan di layar cembung kita en
Sidang ketua pengadil rakyat t
Terjerat hukum berkarat
Tuntutan potong tangan kiat me
Hukum mati bahkan kini menjadi
Kami hanya tak ingin melihat
Mereka para pendusta
Memiliki hotel di balik penjar
/14/
Dan berita tentang anakmu yang
Dibawa oleh teman setanah land
Membawamu dalam perhelatan mas
Maaf mbok... Aku tak bisa pula
Alasan sebaku yang ku berikan
Tak sanggup ku mengatakan jika
Anakmu, Rinai tengah melempar
Kau yang menelfon pagi itu
Memintaku pulang
/15/
“Pulang anakku sayang, sadarla
Hanya sebuah kesia-siaan,
Adakah kayu berubah menjadi mi
Adakah harga panganan mendadak
Menyemarakan kata-kata serapah
Sudahlah anakku,
Tak ridho simbok jika pergimu
Berjibaku dengan aspal trotoar
Hanya untuk bernyanyi dan sali
Ku bayangkan setitik embun men
/16/
Maaf simbok...
Bukan karna darahku darah muda
Atau geloraku gelora Bung Karn
Ini tentang aku yang tak sangg
Tangan ringkihmu terbebani beb
Memikul segantang krupuk
dan berkeliling desa-desa tak
Dan mereka yang duduk sebagai
Lihai benar berjanji keparat
Katanya kami datang dengan ben
Membawa jalur perdamaian untuk
Cih......!!!
/17/
Maaf simbok...
Kini biarkan Rinai kembali ber
Menantang hukum yang kian tak
Satu hari masih di Rabu pagi
Satu hati bersama para pemuda
Kami maju berkolaborasi
Membakar keranda meminta hukum
Berdrama memotong jari
/18/
Satu tembakan panjang milik se
Tak setuju dengan perlakuan ka
Mulai panas hari panas hati
Kobaran semangat milik pelantu
Memperkokoh niat penuntutan hu
“Had atau mati”
/19/
Pembakaran keranda
berlajut pada pembakaran repli
Sejenak polisi mulai geram
Menilat kami yang tak kunjung
Tembakan gas mulai menyerang
Satu persatu berlari tunggang
Walau ada tetap yang kokoh ima
Meringsek maju menantang di me
Tetap saja kami yang tak berse
Pedih mata mulai terasa
Pukulan tongkat mulai punya ma
Katanya harus waspada mengejar
/20/
Ah...simbok
Rinaimu tak sanggup lari
Bayang wajah para penjaja kora
Atau nenek pencuri sebiji kaka
Hukum negri perlu penjagaan
Mahkamah Konstitusi bukanlah D
Apalagi Tuhan yang maha esa
Bukankah mereka diperlakukan s
Dan apa pendapat petinggi negr
Meraka hanya geleng kepala.
/21/
Simbok...
Biarkan Rinai memejamkan mata
Merasakan pukulan yang malang
Entah dari batu yang seperti h
Atau dari gas yang memedihkan
Simbok...
Maafkan Rinai, karna masih tet
Ikut merayakan pernikahan aban
Biarkan Rinai, berdiri mengulu
Dan berharap tak kulihat lagi
Nasib para jelata di pinggiran
/22/
Masih di rabu pagi,
Sisa keranda putih hanya menja
Beginilah nasib hukum negeri k
Mati
Sepi
/23/
Dan sekali lagi telpon ku berd
satu nama berkedip manja
“Pergilah anakku, Simbok tak l
Hanya satu doa terselip di tah
Allah, Jauhkan Rinaiku dari du
Dari nestapa juga dari bahaya
Jika ini jalan jihad yang kau
Kobarkan atas nama membela neg
Dan mereka yang tertindas atas
Yang kian tak kentara.”
/24/
Simbok...
Ini anakmu Rinai berjanji tuk
Membawa sekerat janji yang tak
Hanya saja
Entah tiba-tiba sebuah batu da
Dan gelap semua terbang
Simbok, Rinai tetap berjanji u
Tidak ada komentar:
Posting Komentar