Aku Ingin Berteduh (di Hatimu)

"Cinta adalah sesuatu yang Indah" karena itu Jika aku diberi pilihan "Bernafas atau Mencintaimu," akan aku gunakan " nafas terakhirku untuk mencintaimu "




Minggu, 17 November 2013

Simbok, Rinai tak Pulang


PUISI ESSAI
Karya Luthfia 


/1/
Simbok...
Telepon mu kembali berdering, bukan
Satu salam cium hangat dariku yang kembali tak bisa pulang
Lihat
Disini aku masih menadah keringat bersama rekan
Mengibarkan bendera merah putih yang berwujud baru bermakna usang
Terkoyak arti oleh mentrinya sendiri
/2/
Simbok...
Satu rindumu yang ku terima minggu lalu
“Rinai... Tak lagi bersisa satu kepeng dalam jelanga,
Maafkan simbok yang tak sanggup salurkan nasi wayu atau sekedar
Terigu, kau akan baik-baik saja bukan? Bersabarlah hingga bapak
Pulang membawa segatang uang. Hadiah president katanya.”
Aku hanya meng-iya-kan,
Teringat nun jauh di rumah sana simbok memikul dua gendongan
Menjajakan krupuk di pinggir jalanan
Mana bisa duduk saja seperti para pelayan yang menjelma raja
Dan kau lihat...
Raja-raja mereka melepuh tangan, berkapal kaki hanya tuk mencari sesuap nasi
/3/
Simbok...
Maaf sebenarnya ini alasan ku tak pulang
Disini anakmu Rinai, tengah sok-sok an mengadili
Sedikit tak peduli mati
Karna kami ini adalah putra mahkota raja, yang diiming singgasana
Dan mereka para pelayan yang mensabotase hak kami!
Disini kami tak hanya berteriak memaki
Disini kami tak hanya membakar gelora anarki
Disini kami tak hanya memblokade jalan tanpa tujuan
Kawan-kawan dan Rinai, anakmu sedang bergulat dengan bau jalanan, mejejalkan kisah melek peradaban
/4/
Simbok...
Masih ingatkah apa yang kau ajarkan dahulu tentang harga mati
“Kehormatan negri adalah bagian dari keimanan diri.”
Melihat mereka yang disumpah atas nama kitab suci
Lantas menginjaknya tak lebih dari sampah yang dibuang di pinggir kali
Bukan mereka pula yang mengecam
Ketika kitab-kitab suci akan dibakar?
Bagiku mbok...
Mereka lebih dari apa yang kau lihat dari sebuah perang fisik mengantarkan
Kesucian ajaran pada api
Dan anakmu yang tak bisa pulang ini mencoba berjihad bathin lewat kitab suci yang kami acung tinggi
/5/
Simbok...
Ini masih Rabu pagi, dan satu ikat bendera perah putih menjadi saksi
Kami para pemuda anak raja yang hampir dicekik mati oleh pelayan sendiri
Berduyun mengobarkan semangat cinta
Bendera damai yang kami kobarkan adalah lagu Indonesia raya
Yang kini hanya sebagai matahari mati di hari senin
Bendera damai yang kami kibarkan adalah peti mati yang bertuliskan nama negeri
Yang entah mungkin tak bernyawa lagi
/6/
Simbok....
Masih berbekas ingatan di hari sendu
Laju hari yang berjalan begitu tak tentu
Seluruh Mahasiswa berjiwa ksatria meringsek mengerek bendera
Memenuhi alur pejalan kaki, sepeda dan mobil-mobil milik para pejabat negara
Berteriak mengumandangkan lagu Indonesia raya, mengajak para sesepuh tua pe-sepeda
Berhenti mengenang masa muda, masa muda yang mengkebiri kemerdekaan mereka
Kami berdiri hormat menginginkan mereka pejabat bermobil mewah sejenak mengheningkan cipta
Mendengarkan lagu sedih rakyat jelata, tentang isi-isi bungkus nasi mereka yang kian rata
Para tetua yang kehilangan tangan atau kaki mereka
Atau bangsa macan yang kehilangan taringnya
Kami menunduk sendu, menyanyikan lagu dengan haru
Mereka para pe-sedan mewah ribut berebut nada sumbang dengan klakson mobil
Pamerkan derit-derit suara sampah mereka dengan serapah yang bagi mereka terhormat tentunya
Tidakkah kalian dengar...
Kami sedang mengumandangkan lagu kebangsaan,
Bukan salah jika kami mengebrak kaca mobilmu!
Bukan salah jika kami memuntahkan satu dua balasan serapah jitu
/7/
Simbok...
Kini masih di Rabu pagi,
Rinai anakmu tak sedang mengingatkan hari ketika BBM dinaikkan
Atau ketika melihat penjara para pelayan raja bak istana
Berjajar dipelataran hanya menyalurkan nada sumbang
ah...simbok
Aku rinai anakmu masihlah gadis lugu
Seperti pesanmu dulu saat hendak ku berangkat menimba ilmu
“Janganlah kau jadi para pendemonstran seperti di layar cembung
Hanya berkata dan berteriak ugal-ugalan memenuhi jalanan
Tak jelas sumpah serapah yang mereka teriakan.” katamu bukan?
Maaf, aku anakmu Rinai memang masih seperti dulu
Lugu tersenyum malu-malu
Jika seorang laki-laki merayu
Tapi jiwaku tak lagi merah jambu
Jiwa srikandi mungkin moksa dalam ragaku
Biarkan aku tegak berdiri disini mbok
Menenteng bendera pusaka, menyanyikan Indonesia raya
Demimu, Demi bapak, Demi seluruh raja yang mengemis di negeri sendiri
/8/
Dari jalan kami bergerak
Menyebrang jalanan yang seakan tengah berarak
Menghentikan sejenak kesibukan pertigaan Kampus
Yang hingga tengah malam tak pernah pupus
Tak luput di mata kami
Mereka sibuk mengencangkan sabuk yang melilit bak kekang kuda
Menahan nafas hendak berserapah atas kami Mahasiswa
yang mungkir dari sibuk mereka
Dan darah yang menggelagak mengangkat kepal tangan kiri lebih keatas
Dipandu kakak senior kami bernyanyi keras
“Disini negri kami, tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Negri kami subur tuhan
Di negri permai ini berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas hak nya tergusur dan lapar
Bunda..relakan darah juang kami untuk membebaskan rakyat
Mereka dirampas haknya tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berbakti
Padamu kami mengabdi.”
Dalam isak tangis mengenang bangsa
Sempat kuselipkan do’a
/9/
Oh tuhan ini tanganku yang tak berdaging
Bertulang kecil berkulit tipis, hitam tak lagi manis 
Saksi atas perjuangan kami yang mereka sebut dengan pemberontakan sia-sia
Oh tuhan ini kakiku tak jua disebut jenjang
Bukan tuk dipertontonkan layaknya putri-putri yang berdiri meludahi tubuh sendiri
Kering, kasar tak pula bentuk rupawan
Saksi perjalanan bergulat dengan tar dan terotoar menyambungkan lidah
Para penjaja jalanan, para rakyat kelaparan, yang uangnya mereka jejalkan
Dikantong-kantong perawan jalang
Oh tuhan ini hatiku, rapuh, terluka oleh sembilu
Berdarah atas parang janji mentah, yang di koar-koarkan di pelosok negri sembari berbagi “mie”
Dia menangis menyaksikan “Indahnya Negeri ini.”
Oh Tuhan, yang Maha Besar
Ku tahu mungkin Kau telah terlalu murka hingga acuhkan negeri kami
Mungkin Kau terlalu bosan menatap para tikus
yang hidup makmur bak di ladang subur
Mungkin Kau telah jemu
Menghukum angkara yang tak kunjung jera
/10/
Rehat sejenak tak jadi pengendor semangat
Rinai masih di ujung hujan yang kian beranak
Membiarkan para pejalan yang terlihat kian berpinak
Peluit-peluit polisi mulai mengendurkan jalanan yang
Seperti berbatu kali
/11/
Dan duduk di selasar jalanan
Menatap rombongan para manusia picisan
sok-sok an mentereng di balik tangkupan ketiak sedan pinjaman
Duduk saja kami mengangkang
Saling tukar bekas ludah dalam mineral gelasan
Hilang dahaga,
bukan berarti hilang pula nada perubahan dalam dada
Hak Rakyat harus dibela
Uang rakyat mesti diletakan di tempatnya
/12/
Simbok...
Tak ubahnya tentang kami yang sedang berjihad
Ini cara kami untuk sedikit melaknat para keparat
Bukan sok suci
Tapi memang hanya ini cara kami
Simbok... Ini Rinai anakmu
Kembali minta restu
Ber-bharatayuda di medan laga jalanan kota
/13/
Bukan di layar cembung kita engkau juga menatap
Sidang ketua pengadil rakyat tengah sekarat
Terjerat hukum berkarat
Tuntutan potong tangan kiat melesat
Hukum mati bahkan kini menjadi pilihan tanpa syarat
Kami hanya tak ingin melihat
Mereka para pendusta
Memiliki hotel di balik penjara
/14/
Dan berita tentang anakmu yang kian ramai
Dibawa oleh teman setanah landai
Membawamu dalam perhelatan masai
Maaf mbok... Aku tak bisa pulang
Alasan sebaku yang ku berikan memang hanya dusta pilihan
Tak sanggup ku mengatakan jika
Anakmu, Rinai tengah melempar orasi di jalanan
Kau yang menelfon pagi itu
Memintaku pulang    
/15/
“Pulang anakku sayang, sadarlah yang kau lakukan
Hanya sebuah kesia-siaan,
Adakah kayu berubah menjadi minyak setelah kau berdemo?
Adakah harga panganan mendadak recehan setelah kau berkoar
Menyemarakan kata-kata serapah untuk para petinggi tak berhati?
Sudahlah anakku,
Tak ridho simbok jika pergimu hanya untuk
Berjibaku dengan aspal trotoar
Hanya untuk bernyanyi dan saling melempar batu di jalanan.”
Ku bayangkan setitik embun mengangantung angan
/16/
Maaf simbok...
Bukan karna darahku darah muda
Atau geloraku gelora Bung Karno ketika Indonesia Merdeka
Ini tentang aku yang tak sanggup menatap
Tangan ringkihmu terbebani beban berat
Memikul segantang krupuk
dan berkeliling desa-desa tak terlihat
Dan mereka yang duduk sebagai pejabat
Lihai benar berjanji keparat
Katanya kami datang dengan bendera besar pengobar kebenaran
Membawa jalur perdamaian untuk rakyat sekalian
Cih......!!!
/17/
Maaf simbok...
Kini biarkan Rinai kembali berdiri
Menantang hukum yang kian tak pasti
Satu hari masih di Rabu pagi
Satu hati bersama para pemuda negri
Kami maju berkolaborasi
Membakar keranda meminta hukum mati
Berdrama memotong jari
/18/
Satu tembakan panjang milik serdadu polisi
Tak setuju dengan perlakuan kami
Mulai panas hari panas hati
Kobaran semangat milik pelantun lagu Padamu Negri
Memperkokoh niat penuntutan hukum maxi
“Had atau mati”
/19/
Pembakaran keranda
berlajut pada pembakaran replika
Sejenak polisi mulai geram
Menilat kami yang tak kunjung redam
Tembakan gas mulai menyerang
Satu persatu berlari tunggang langgang
Walau ada tetap yang kokoh ima
Meringsek maju menantang di medan laga
Tetap saja kami yang tak bersenjata kalah rasa
Pedih mata mulai terasa
Pukulan tongkat mulai punya mata
Katanya harus waspada mengejar mangsa
/20/
Ah...simbok
Rinaimu tak sanggup lari
Bayang wajah para penjaja koran
Atau nenek pencuri sebiji kakao semakin menguatkan
Hukum negri perlu penjagaan
Mahkamah Konstitusi bukanlah Dewa!
Apalagi Tuhan yang maha esa
Bukankah mereka diperlakukan semena?
Dan apa pendapat petinggi negri
Meraka hanya geleng kepala.
/21/
Simbok...
Biarkan Rinai memejamkan mata
Merasakan pukulan yang malang melintang mulai mendera
Entah dari batu yang seperti hujan raga
Atau dari gas yang memedihkan mata
Simbok...
Maafkan Rinai, karna masih tetap tak bisa pulang
Ikut merayakan pernikahan abang
Biarkan Rinai, berdiri mengulum matahari disini
Dan berharap tak kulihat lagi
Nasib para jelata di pinggiran kota
/22/
Masih di rabu pagi,
Sisa keranda putih hanya menjadi saksi
Beginilah nasib hukum negeri kami
Mati
Sepi
/23/
Dan sekali lagi telpon ku berdering
satu nama berkedip manja
“Pergilah anakku, Simbok tak lagi bisa melarangmu
Hanya satu doa terselip di tahajudku
Allah, Jauhkan Rinaiku dari duka
Dari nestapa juga dari bahaya
Jika ini jalan jihad yang kau pilih nduk
Kobarkan atas nama membela negara
Dan mereka yang tertindas atas nama hukum
Yang kian tak kentara.”
/24/
Simbok...
Ini anakmu Rinai berjanji tuk pulang
Membawa sekerat janji yang tak lagi berlubang
Hanya saja
Entah tiba-tiba sebuah batu datang
Dan gelap semua terbang
Simbok, Rinai tetap berjanji untuk pulang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar