Aku Ingin Berteduh (di Hatimu)

"Cinta adalah sesuatu yang Indah" karena itu Jika aku diberi pilihan "Bernafas atau Mencintaimu," akan aku gunakan " nafas terakhirku untuk mencintaimu "




Minggu, 17 November 2013

MENGEJAR KERETA FAJAR

Karya: Cahaiaa Lintang'Tsuraya


Gemerisik desir angin malam menyapa dedaunan. Diatas sana sabit akhir ramadhan memaksa sang bulan menampilkan seulas senyuman. Di bangku tua teras rumah aku duduk termenung, mungkin lebih tepatnya melamun. Ragaku di sini tapi anganku melayang jauh naik ke langit. Melakukan demonstrasi besar-besaran pada Tuhan.

"Wahai Yang Maha Agung mengapa harus ada pandangan si kaya si miskin, terpelajar kampungan, tampan dan biasa saja? Jawab aku Tuhan," teriakku berapi-api.

"Pantaskah manusia merendahkan manusia lain hanya karena pangkat dan martabat? Bukankah di depan-Mu semuanya sama?" protesku lagi.

Ah entahlah. Aku tak pernah mengerti jalan pikiran Ayah. Wildan, pria pertama dan satu-satunya pria yang berhasil masuk ke dalam hatiku, ditak acuhkan begitu saja. Jangankan ditemui selayaknya tamu, disapa pun tidak. Karena penampilannyayang biasa saja dan tak bermobil mewah? Ah, itu alasan paling naif yang akhirnya harus aku dengar dari mulut ayahku sendiri.

--**--

Kunjungan kelamnya sang malam seolah selalu mengajakku menapak jauh ke masa lalu. Melemparku ke samudra rindu yang tak bertepi. Yah benar. Malam ini dan seperti malam-malam sebelumnya rindu ini kembali membuncah membelah kegelapan, berharap dibalik sunyi bertemu dengan kekasih hatiku, Wildan. Tiga bulan tak bertemu membuat rinduku semakin menderu.

Bagiku pria berperwakan sedang ini adalah sosok sempurna tak tergantikan.Tuturnya lembut, sopan santun pada wanita, berpola pikir cerdas dan matang, tindak tanduknya sangat hati-hati (bahkan menurutku terlalu berlebihan), serta rasa tanggung jawabnya yang luar biasa sungguh membuatku semakin mabuk kepayang. Pertemuan pertama biasa saja tapi untuk selanjutnya aku pun terpesona.

Ku tarik nafas dalam-dalam. Lebaran tinggal satu minggu lagi, apa kabar gerangan Wildanku. Kembali kutarik dalam nafasku, lima detik kemudian bibir initersenyum, benar-benar tersenyum. Cara ini selalu berhasil membuat si perasaan membaik.

Masih dengan ramuan senyum beberapa detik yang lalu, ku raih hape jadul dari kantong baju.

"Tat..tit..tut..tat..tit..tut.." Entah malaikat mana yang menuntun jemariku hingga aku -setelah tiga bulan tak pernah melakukan kontak apapun- dengan pedenya mengirim sms untuk Wildan.

"Apa kabar? Kapan mudik?" singkat, jelas dan terlalu to the point.

Satu menit dua menit akhirnya satu jam pun berlalu, dan aku masih setia menunggu. "Hmm.. Sudahlah mungkin dia benar-benar ingin melupakanku."Aku putus asa.

"Kliring..kliring.." Layar hapeku berkedip-kedip menyala.

"1 new message"

Aih! Hati pun bergetar mendadak keringat dingin membasahi jari-jemariku. Antara berharap dan putus asa kubaca juga sms itu.

"Alhamdulillah sehat, insyaallah selasa aku pulang, dan kamu juga apa kabar?"

Aku berbunga-bunga. Dia menanyakan kabarku, masih pedulikah dia? Dengan semangat membara ku balas sms-nya.

"Alhamdulillah sehat."

Hah?! What? Hanya mengetik kalimat itu, setelah hampir seratus malam memendam segunung rindu? Entahlah hanya abjad-abjad itu yang mampu aku rangkai.

"Bodohnya.. kenapa tidak tanya ini itu? Tuh kan sms-nya berakhir,"hiks tangisku dalam hati.

---**---

Malam ini masih di bangku tua ini aku duduk bervisualisasi. Yah, mengeluarkan jurus tersakti, meniru para guru besar dalam DVD "The Secret" favoritku. Pikiran adalah kekuatan terdahsyat di alam semesta, begitulah pesan film itu. Ditambah kutipan "La Tahzan" yang sempat aku baca tempo hari. "Jika engkau punya sebuah ide segera satukan tekad untuk melakukannya, sebab rusaknya ide itu karena keraguan semata."

Sepertinya ungkapan para cendekiawan tersebut berhasil meracuni otakku yang sedang linglung. Dengan hati sebulat kue donat dan nekatnya pikiran pekat,akhirnya aku melakukan meditasi gila ini.

Pertama ambil nafas dalam, rileks, tenangkan pikiran dan point pentingya adalah"merasa baik" lah. Ku ikuti panduan visualisasi dalam DVD itu. Dalam mata terpejam ku bayangkan, menyusuri gerbong kereta. Menutup hidung tak tahan dengan parfumn alami penghuni seantero kereta. Aku serasa benar-benar mencium baunya. Hanya berselang dua gerbong, aku terpana melihat sosok bertopibersandar pada kursi. Matanya tajam memandang keluar jendela.

Tiba-tiba entah senyawa apa perlahan mengaliri setiap pembuluh darahku. Selaksa melayang ke angkasa, sungguh setelah berbulan-bulan baru kali ini bisa merasakan sensasi luar biasa seperti ini. Dengan senyum mengembang aku berhasil mengajak Wildan turun. Hari ini akan kuhabiskan hanya dengannya.

Perlahan ku buka mataku, meditasi berakhir. Ada yang berbeda dengan tuan perasaan. Entahlah, bahagia menyelimuti hati dan jiwa, seolah baru saja aku bertemu dengan Wildan. Senyum bahagia menyembul, karena teori menyebutkan jika perasaan menjadi lebih baik, selamat! Visualisasi berhasil. Peluang harapan akan mewujud semakin besar.

---**---

Hari selasa pun tiba. Aku pastikan hari ini Wildan memang akan pulang dengannaik kereta.

"Jadi pulang?" sms sent to Wildan

"Insyaallah, nanti sore naik kereta," balasnya singkat.

Yess! Aku meloncat kegirangan. Setengah misiku berhasil, dia pulang naikkereta. Tinggal ku luncurkan misi selanjutnya.

Persis setelah shubuh aku bersiapa-siap. Saat mudik dia selalu melewati kota tempat tinggalku. Dulu aku pernah menjemputnya tepat jam 05.00 pagi, bedanya hari ini tanpa tahu naik kereta apa dan akan tiba jam berapa. Benar-benar hanya bermodal visualisasi tempo hari.

Dengan motor butut Ayah, kususuri jalanan yang masih lengang. Hanya hawa dingin sesekali menusuk tulang. Embun yang masih bergelayutan serempak menertawakan apa yang aku lakukan. Ah, masa bodoh! Hanya Wildan seorang dalam otakku sekarang.

Sampai di stasiun kereta, petugas bilang bahwa jam 05.00-05.30 ada tiga jenis kereta dari utara. Masing-masing hanya berhenti 5-10 menit saja. Apa?! Serasa disambar petir di pagi buta, bagaimana mungkin aku menemukan satu orang diantara ratusan penumpang hanya dalam waktu kurang dari 10 menit? Ah, ini gila! "Ya sudahlah, terlanjur kepalang basah. Bukankah dari awal tindakanku ini memang sudah gila?" Batinku berbisik menenangkan diri sendiri yang mulai diterkam panik.

05.45 WIB

Di salah satu pos bekas pangkalan ojek stasiun tampak seorang gadis berkerudung biru duduk membisu. Di sudut yang lain seorang pria bertopi mulai menyulut sebatang rokok. Seperti dua orang yang kebetulan terjebak hujan, berteduh di bawah satu atap. Saling berjauhan, membisu hanya sesekali melirik. Mereka tak lain ialah aku dan Wildan. Sama persis dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, selalu duduk saling berjauhan. Pernah suatu ketika aku iseng menggodanya.

"Apakah kamu tidak ingin sesekali duduk lebih dekat denganku?"

"Hahahaa..ternyata diam-diam kamu berharap aku dekati juga? Jangan-jangan ingin dipegang dan dibelai juga, layaknya sepasang kekasih pada umumnya itu ya?" Bukannya menjawab, eh dia malah terkekeh meledekku.

"Hmmm..ini serius Wil. Hanya ingin tahu saja seberapa besar keistiqamahan-mu itu." -week- Kujulurkan lidah membalas ledekannya.

"Sebenarnya iman tak seteguh itu. Aku menghormati usahamu dalam menutupi aurat, menjaga kesucianmu. Terlebih aku juga malu pada kerudung lebarmu," jawabnya serius.

Memang selama enam bulan kita menjalin hubungan "entah" ini, tak pernah sekalipun kita duduk berdekatan, palagi sampai pegang-pegangan layaknya pemabuk asmara pada umumnya.

Wildan adalah kakak teman kerjaku. Sebenarnya sejak awal pernyataan cintanya dia inin langsung mengkhitbahku, tapi aku menolaknya. "Tunggu dulu aku belum siap jadi istri apalagi jadi seorang ibu," jawabku saat itu. Tak dinyana Wildan dengan senang hati menunggu.

Ah, tapi itu dulu, enam bulan yang lalu. Ternyata takdir tidak berpihak padaku. Mimpi tinggalah mimpi. Semuanya kandas bersama datangnya Wildan ke rumahku. Ayah tak mau menemuinya. Beliau bersikeras menolak hubungan kami. Apalagi kalau sampai menikah, Ayah takkan pernah merestui. Ibuku setuju dengan niat keseriusan kami, tapi apalah daya tak mungkin ibu bisa menentang keputusan Ayah. Dan aku? Sudah tentu sangat terluka. Bahkan hingga detik ini, saat aku bisa bertemu Wildan lagi. Luka itu masih menganga.

---***---

Semua berjalan persis seperti bayanganku dalam meditasi gila tempo malam. Entah darimana datangnya keajaiban ini. Dalam 10 menit dengan mudah aku menemukan Wildan, hanya setelah menyusuri dua gerbong kereta. Terlalu ajaib kan? Aku sendiri juga tak percaya.Meski sempat mogok, namun akhirnya dia mau turun juga.

Seumur-umur baru kali ini aku turun dari kereta, dengan cara melompat ketika kereta sudah mulai melaju. Hari ini memang hari paling gila!"Kenapa kamu melakukan tindakan sebodoh ini?"Hembusan asap rokoknya meracuni segarnya udara pagi. Dengan nada datar dan pandangan sengaja dibuang ke jalan raya di seberang sana, dia menanyakan itu padaku."Tidak tahu." Jawabku seperti orang bodoh."Bagaimana jika tak menemukanku, memasuki kereta yang salah atau bahkan ikut terbawa kereta?" cerocosnya. Aku hanya bisa diam."Apa maumu?!" Mendadak nada bicaranya ketus. Baru kali ini dia begitu ketus. Aku masih tetap membisu, menunduk, reflek jari-jariku memainkan ujung kerudung. Mataku mulai berkaca-kaca.

"Sudahlah Nissa..." sepertinya dia mulai menyadari perasaanku, bicaranya mulai melembut seperti dulu.

"Percuma saja, Ayahmu takkan pernah bisa menerimaku. Mungkin benar yang beliau katakan padamu, kamu tak mungkin bisa hidup bahagia jika menikah denganku."

"Tapi kita belum mencoba. Paling tidak berusahalah dulu meyakinkan hati Ayah. Luluhkan hatinya, tunjukkan bahwa kamu benar-benar menyayangiku." Aku mencoba menawar keputusannya.

"Tidak Annisa. Aku terlanjur sakit hati. Ayahmu telah menginjak-injak harga diriku," jawabnya kembali ketus.

"Jadi karena itulah kamu menjauhiku, sebab dendam pada ayahku? Ternyata hatimu tak seberlian yang aku kira Wildan, aku kecewa padamu!" Tumpahlah air mataku hati ini serasa dimutilasi hidup-hidup.

"Terserah prasangka kamu. Aku sudah tak peduli."Seketika itu juga dia berdiri. Berjalan meninggalkanku seorang diri, yang mulai hanyut dalam sungai air mata.

Aku menangis sejadi-jadinya. Setelah penuh perjuangan keras untuk bisa bertemu dengannya, ini yang aku dapat? Sederet luka menganga dan air mata belaka? Tak ku sangka Wildan seorang yang tak mudah memaafkan orang lain. Mulai detik itu juga aku bersumpah tak akan pernah menemuinya lagi.

---***---

Tak terasa bulan Ramadhan pun datang lagi. Berarti hampir 2 tahun ini aku tak pernah mendengar kabar Wildan. Setelah peristiwa di stasiun kereta itu, tak sekalipun aku menghubunginya apalagi mencari tahu tentangnya. Kecewa menyelimuti hati tapi hingga detik ini sang otak tak jua bisa melupakan sosok Wlidan. Apakah karena dia sudah terlanjur terulir indah dalam bilik hatiku? Ah entahlah...

Ramadhan kali ini, aku hanya ingin bercinta dengan-Nya. Melewati malam dengan sujud panjang di depan Sang Maha Cinta. Hatiku telah mati asa. Pasrah kuserahkan semuanya kepada Dia yang Maha Mengatur alam semesta. Dalam setiap akhir munajatku lirih kulantunkan do'a;

Ya Rabb.. Yang Maha Membolak-balikkan hati
Yang Maha Wenang memutar balikkan keadaan
Seluruh alam semesta tunduk pada perintahmu
Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Mu
Seekor semutpun tak akan mati tanpa seijin-Mu

Ya Allah, Rabbul Haq
Jika aku dan Wildan berjodoh
Satukanlah kami, dengan cara terbaik menurut Engkau
Lapangkanlah hati Ayah agar mau menerimanya
Bukakanlah pintu ma'af seluas-luasnya di hati Wildan
Lembutkanlah hatinya untuk memahami sifat Ayah

Dan kalau kami tidak berjodoh
Berikanlah kelapangan dan keikhlasan pada hati kami
Pertemukanlah ia dengan jodohnya,wanita yang tulus menyayanginya, yang menyenangkan dan menentramkan jiwanya
Allahuma aamin...

---***---

Hari raya Idul Fitri kali ini aku habiskan di rumah saja dengan sanak keluarga. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tak ada hasrat kemana-mana bahkan sekedar berkumpul dengan teman lama pun tidak. Sudah 3 hari ini aku hanya bermalas-malasan di kamar. Kontrak kerja sudah berakhir sejak sebelum ramadhan kemarin. Tumben juga santai saja, tak heboh mencari lowongan kerja kesana-kemari,"Kliring.. Kliring.."

"1 new mwssage"Dengan sangat malas ku buka sms yang baru masuk.

"Nissa bidadariku, besok dandan yang cantik ya. Insyaallah aku dan keluarga akan datang ke rumah. Melamar putri cantik tuan rumah."

Mataku langsung terbelalak, detak jantung berdentum tak karuan, keringat membanjiri seluruh tubuh. Dengan tangan yang gemetar dan dada bergemuruh ku baca berulang-ulang sms itu. Tanpa basa-basi pria yang terlanjur terukir abadi di hati ini menghubungiku lagi. Dengan kalimat sekstrim ini? Wildan?! Benarkah ini kamu?

--- *** ---

Dengan wajah tertunduk malu -malu ku bawa senampan minuman untuk para tamu.

"Annisa, duduk sini Nak.. di samping Ayah." Suara Ayah menyegarkan tegangnya ruangan. Acara yang diakhiri dengan anggukan kepalaku ini pun berjalan lancar, dan tercapailah kata mufakat.

--- *** ---

Sambil menunggu para tamu undangan aku berbisik pada Ibu.

"Bu, bagaimana Ayah bisa langsung setuju?" Ibu terkekeh lalu membisikkan sesuatu di telingaku.

"Ini rahasia. Sebenarnya ayahmu sejak pertama sudah setuju. Ia hanya ingin menguji seberapa kuatkah cinta kalian, terutama Wildan. Ayah salut sama kalian, bertahan sampai badan kurus begitu. Tadinya ibu kira hubungan kalian sudah expired loh."

Jleb! Aku menelan ludah.

"Ini mah bukan menguji tapi membui, membunuh tanpa melukai. Jelas saja badanku jadi kerempeng begini," gumamku dalam hati.

--- *** ---

Setelah kami menikah aku baru tahu rahasia Wildan, suamiku. Kenapa saat itu tanpa ba bi bu dengan pede-nya langsung mengirim sms khitbah padaku. Ternyata selama 2 tahun kita berpisah, dia rajin menghubungi sahabat sekaligus teman curhatku. Sekedar ingin tahu bagaimana kabarku dan pastinya juga perasaanku. Oh so sweet Parahnya sahabatku dengan polosnya selalu saja menceritakan perasaanku, bahwa aku masih selalu mencintainya dalam do'a.

Hmmm...Pantesan aja.

--TAMAT--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar