Karya: Cahaiaa Lintang'Tsuraya
Gemerisik desir angin malam menyapa
dedaunan. Diatas sana sabit akhir ramadhan memaksa sang bulan menampilkan
seulas senyuman. Di bangku tua teras rumah aku duduk termenung, mungkin lebih
tepatnya melamun. Ragaku di sini tapi anganku melayang jauh naik ke langit.
Melakukan demonstrasi besar-besaran pada Tuhan.
"Wahai Yang Maha Agung mengapa harus ada pandangan si kaya si miskin, terpelajar kampungan, tampan dan biasa saja? Jawab aku Tuhan," teriakku berapi-api.
"Wahai Yang Maha Agung mengapa harus ada pandangan si kaya si miskin, terpelajar kampungan, tampan dan biasa saja? Jawab aku Tuhan," teriakku berapi-api.
"Pantaskah manusia merendahkan
manusia lain hanya karena pangkat dan martabat? Bukankah di depan-Mu semuanya
sama?" protesku lagi.
Ah entahlah. Aku tak pernah mengerti jalan pikiran Ayah. Wildan, pria pertama dan satu-satunya pria yang berhasil masuk ke dalam hatiku, ditak acuhkan begitu saja. Jangankan ditemui selayaknya tamu, disapa pun tidak. Karena penampilannyayang biasa saja dan tak bermobil mewah? Ah, itu alasan paling naif yang akhirnya harus aku dengar dari mulut ayahku sendiri.
--**--
Kunjungan kelamnya sang malam seolah selalu mengajakku menapak jauh ke masa lalu. Melemparku ke samudra rindu yang tak bertepi. Yah benar. Malam ini dan seperti malam-malam sebelumnya rindu ini kembali membuncah membelah kegelapan, berharap dibalik sunyi bertemu dengan kekasih hatiku, Wildan. Tiga bulan tak bertemu membuat rinduku semakin menderu.
Bagiku pria berperwakan sedang ini adalah sosok sempurna tak tergantikan.Tuturnya lembut, sopan santun pada wanita, berpola pikir cerdas dan matang, tindak tanduknya sangat hati-hati (bahkan menurutku terlalu berlebihan), serta rasa tanggung jawabnya yang luar biasa sungguh membuatku semakin mabuk kepayang. Pertemuan pertama biasa saja tapi untuk selanjutnya aku pun terpesona.
Ku tarik nafas dalam-dalam. Lebaran tinggal satu minggu lagi, apa kabar gerangan Wildanku. Kembali kutarik dalam nafasku, lima detik kemudian bibir initersenyum, benar-benar tersenyum. Cara ini selalu berhasil membuat si perasaan membaik.
Masih dengan ramuan senyum beberapa detik yang lalu, ku raih hape jadul dari kantong baju.
Ah entahlah. Aku tak pernah mengerti jalan pikiran Ayah. Wildan, pria pertama dan satu-satunya pria yang berhasil masuk ke dalam hatiku, ditak acuhkan begitu saja. Jangankan ditemui selayaknya tamu, disapa pun tidak. Karena penampilannyayang biasa saja dan tak bermobil mewah? Ah, itu alasan paling naif yang akhirnya harus aku dengar dari mulut ayahku sendiri.
--**--
Kunjungan kelamnya sang malam seolah selalu mengajakku menapak jauh ke masa lalu. Melemparku ke samudra rindu yang tak bertepi. Yah benar. Malam ini dan seperti malam-malam sebelumnya rindu ini kembali membuncah membelah kegelapan, berharap dibalik sunyi bertemu dengan kekasih hatiku, Wildan. Tiga bulan tak bertemu membuat rinduku semakin menderu.
Bagiku pria berperwakan sedang ini adalah sosok sempurna tak tergantikan.Tuturnya lembut, sopan santun pada wanita, berpola pikir cerdas dan matang, tindak tanduknya sangat hati-hati (bahkan menurutku terlalu berlebihan), serta rasa tanggung jawabnya yang luar biasa sungguh membuatku semakin mabuk kepayang. Pertemuan pertama biasa saja tapi untuk selanjutnya aku pun terpesona.
Ku tarik nafas dalam-dalam. Lebaran tinggal satu minggu lagi, apa kabar gerangan Wildanku. Kembali kutarik dalam nafasku, lima detik kemudian bibir initersenyum, benar-benar tersenyum. Cara ini selalu berhasil membuat si perasaan membaik.
Masih dengan ramuan senyum beberapa detik yang lalu, ku raih hape jadul dari kantong baju.
"Tat..tit..tut..tat..tit..tut.."
Entah malaikat mana yang menuntun jemariku hingga aku -setelah tiga bulan tak
pernah melakukan kontak apapun- dengan pedenya mengirim sms untuk Wildan.
"Apa kabar? Kapan mudik?" singkat, jelas dan terlalu to the point.
"Apa kabar? Kapan mudik?" singkat, jelas dan terlalu to the point.
Satu menit dua menit akhirnya satu
jam pun berlalu, dan aku masih setia menunggu. "Hmm.. Sudahlah mungkin dia
benar-benar ingin melupakanku."Aku putus asa.
"Kliring..kliring.." Layar hapeku berkedip-kedip menyala.
"Kliring..kliring.." Layar hapeku berkedip-kedip menyala.
"1 new message"
Aih! Hati pun bergetar mendadak keringat
dingin membasahi jari-jemariku. Antara berharap dan putus asa kubaca juga sms
itu.
"Alhamdulillah sehat,
insyaallah selasa aku pulang, dan kamu juga apa kabar?"
Aku berbunga-bunga. Dia menanyakan
kabarku, masih pedulikah dia? Dengan semangat membara ku balas sms-nya.
"Alhamdulillah sehat."
Hah?! What? Hanya mengetik kalimat
itu, setelah hampir seratus malam memendam segunung rindu? Entahlah hanya
abjad-abjad itu yang mampu aku rangkai.
"Bodohnya.. kenapa tidak tanya
ini itu? Tuh kan sms-nya berakhir,"hiks tangisku dalam hati.
---**---
Malam ini masih di bangku tua ini aku duduk bervisualisasi. Yah, mengeluarkan jurus tersakti, meniru para guru besar dalam DVD "The Secret" favoritku. Pikiran adalah kekuatan terdahsyat di alam semesta, begitulah pesan film itu. Ditambah kutipan "La Tahzan" yang sempat aku baca tempo hari. "Jika engkau punya sebuah ide segera satukan tekad untuk melakukannya, sebab rusaknya ide itu karena keraguan semata."
Sepertinya ungkapan para cendekiawan tersebut berhasil meracuni otakku yang sedang linglung. Dengan hati sebulat kue donat dan nekatnya pikiran pekat,akhirnya aku melakukan meditasi gila ini.
Pertama ambil nafas dalam, rileks, tenangkan pikiran dan point pentingya adalah"merasa baik" lah. Ku ikuti panduan visualisasi dalam DVD itu. Dalam mata terpejam ku bayangkan, menyusuri gerbong kereta. Menutup hidung tak tahan dengan parfumn alami penghuni seantero kereta. Aku serasa benar-benar mencium baunya. Hanya berselang dua gerbong, aku terpana melihat sosok bertopibersandar pada kursi. Matanya tajam memandang keluar jendela.
---**---
Malam ini masih di bangku tua ini aku duduk bervisualisasi. Yah, mengeluarkan jurus tersakti, meniru para guru besar dalam DVD "The Secret" favoritku. Pikiran adalah kekuatan terdahsyat di alam semesta, begitulah pesan film itu. Ditambah kutipan "La Tahzan" yang sempat aku baca tempo hari. "Jika engkau punya sebuah ide segera satukan tekad untuk melakukannya, sebab rusaknya ide itu karena keraguan semata."
Sepertinya ungkapan para cendekiawan tersebut berhasil meracuni otakku yang sedang linglung. Dengan hati sebulat kue donat dan nekatnya pikiran pekat,akhirnya aku melakukan meditasi gila ini.
Pertama ambil nafas dalam, rileks, tenangkan pikiran dan point pentingya adalah"merasa baik" lah. Ku ikuti panduan visualisasi dalam DVD itu. Dalam mata terpejam ku bayangkan, menyusuri gerbong kereta. Menutup hidung tak tahan dengan parfumn alami penghuni seantero kereta. Aku serasa benar-benar mencium baunya. Hanya berselang dua gerbong, aku terpana melihat sosok bertopibersandar pada kursi. Matanya tajam memandang keluar jendela.
Tiba-tiba entah senyawa apa perlahan
mengaliri setiap pembuluh darahku. Selaksa melayang ke angkasa, sungguh setelah
berbulan-bulan baru kali ini bisa merasakan sensasi luar biasa seperti ini. Dengan
senyum mengembang aku berhasil mengajak Wildan turun. Hari ini akan kuhabiskan
hanya dengannya.
Perlahan ku buka mataku, meditasi berakhir. Ada yang berbeda dengan tuan perasaan. Entahlah, bahagia menyelimuti hati dan jiwa, seolah baru saja aku bertemu dengan Wildan. Senyum bahagia menyembul, karena teori menyebutkan jika perasaan menjadi lebih baik, selamat! Visualisasi berhasil. Peluang harapan akan mewujud semakin besar.
---**---
Hari selasa pun tiba. Aku pastikan hari ini Wildan memang akan pulang dengannaik kereta.
Perlahan ku buka mataku, meditasi berakhir. Ada yang berbeda dengan tuan perasaan. Entahlah, bahagia menyelimuti hati dan jiwa, seolah baru saja aku bertemu dengan Wildan. Senyum bahagia menyembul, karena teori menyebutkan jika perasaan menjadi lebih baik, selamat! Visualisasi berhasil. Peluang harapan akan mewujud semakin besar.
---**---
Hari selasa pun tiba. Aku pastikan hari ini Wildan memang akan pulang dengannaik kereta.
"Jadi pulang?" sms sent to
Wildan
"Insyaallah, nanti sore naik
kereta," balasnya singkat.
Yess! Aku meloncat kegirangan.
Setengah misiku berhasil, dia pulang naikkereta. Tinggal ku luncurkan misi
selanjutnya.
Persis setelah shubuh aku
bersiapa-siap. Saat mudik dia selalu melewati kota tempat tinggalku. Dulu aku
pernah menjemputnya tepat jam 05.00 pagi, bedanya hari ini tanpa tahu naik
kereta apa dan akan tiba jam berapa. Benar-benar hanya bermodal visualisasi
tempo hari.
Dengan motor butut Ayah, kususuri
jalanan yang masih lengang. Hanya hawa dingin sesekali menusuk tulang. Embun
yang masih bergelayutan serempak menertawakan apa yang aku lakukan. Ah, masa
bodoh! Hanya Wildan seorang dalam otakku sekarang.
Sampai di stasiun kereta, petugas
bilang bahwa jam 05.00-05.30 ada tiga jenis kereta dari utara. Masing-masing
hanya berhenti 5-10 menit saja. Apa?! Serasa disambar petir di pagi buta,
bagaimana mungkin aku menemukan satu orang diantara ratusan penumpang hanya
dalam waktu kurang dari 10 menit? Ah, ini gila! "Ya sudahlah, terlanjur
kepalang basah. Bukankah dari awal tindakanku ini memang sudah gila?"
Batinku berbisik menenangkan diri sendiri yang mulai diterkam panik.
05.45 WIB
Di salah satu pos bekas pangkalan ojek stasiun tampak seorang gadis berkerudung biru duduk membisu. Di sudut yang lain seorang pria bertopi mulai menyulut sebatang rokok. Seperti dua orang yang kebetulan terjebak hujan, berteduh di bawah satu atap. Saling berjauhan, membisu hanya sesekali melirik. Mereka tak lain ialah aku dan Wildan. Sama persis dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, selalu duduk saling berjauhan. Pernah suatu ketika aku iseng menggodanya.
"Apakah kamu tidak ingin sesekali duduk lebih dekat denganku?"
"Hahahaa..ternyata diam-diam kamu berharap aku dekati juga? Jangan-jangan ingin dipegang dan dibelai juga, layaknya sepasang kekasih pada umumnya itu ya?" Bukannya menjawab, eh dia malah terkekeh meledekku.
"Hmmm..ini serius Wil. Hanya ingin tahu saja seberapa besar keistiqamahan-mu itu." -week- Kujulurkan lidah membalas ledekannya.
"Sebenarnya iman tak seteguh itu. Aku menghormati usahamu dalam menutupi aurat, menjaga kesucianmu. Terlebih aku juga malu pada kerudung lebarmu," jawabnya serius.
Di salah satu pos bekas pangkalan ojek stasiun tampak seorang gadis berkerudung biru duduk membisu. Di sudut yang lain seorang pria bertopi mulai menyulut sebatang rokok. Seperti dua orang yang kebetulan terjebak hujan, berteduh di bawah satu atap. Saling berjauhan, membisu hanya sesekali melirik. Mereka tak lain ialah aku dan Wildan. Sama persis dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, selalu duduk saling berjauhan. Pernah suatu ketika aku iseng menggodanya.
"Apakah kamu tidak ingin sesekali duduk lebih dekat denganku?"
"Hahahaa..ternyata diam-diam kamu berharap aku dekati juga? Jangan-jangan ingin dipegang dan dibelai juga, layaknya sepasang kekasih pada umumnya itu ya?" Bukannya menjawab, eh dia malah terkekeh meledekku.
"Hmmm..ini serius Wil. Hanya ingin tahu saja seberapa besar keistiqamahan-mu itu." -week- Kujulurkan lidah membalas ledekannya.
"Sebenarnya iman tak seteguh itu. Aku menghormati usahamu dalam menutupi aurat, menjaga kesucianmu. Terlebih aku juga malu pada kerudung lebarmu," jawabnya serius.
Memang selama enam bulan kita
menjalin hubungan "entah" ini, tak pernah sekalipun kita duduk
berdekatan, palagi sampai pegang-pegangan layaknya pemabuk asmara pada umumnya.
Wildan adalah kakak teman kerjaku.
Sebenarnya sejak awal pernyataan cintanya dia inin langsung mengkhitbahku, tapi
aku menolaknya. "Tunggu dulu aku belum siap jadi istri apalagi jadi
seorang ibu," jawabku saat itu. Tak dinyana Wildan dengan senang hati
menunggu.
Ah, tapi itu dulu, enam bulan yang
lalu. Ternyata takdir tidak berpihak padaku. Mimpi tinggalah mimpi. Semuanya
kandas bersama datangnya Wildan ke rumahku. Ayah tak mau menemuinya. Beliau
bersikeras menolak hubungan kami. Apalagi kalau sampai menikah, Ayah takkan
pernah merestui. Ibuku setuju dengan niat keseriusan kami, tapi apalah daya tak
mungkin ibu bisa menentang keputusan Ayah. Dan aku? Sudah tentu sangat terluka.
Bahkan hingga detik ini, saat aku bisa bertemu Wildan lagi. Luka itu masih
menganga.
---***---
Semua berjalan persis seperti
bayanganku dalam meditasi gila tempo malam. Entah darimana datangnya keajaiban
ini. Dalam 10 menit dengan mudah aku menemukan Wildan, hanya setelah menyusuri
dua gerbong kereta. Terlalu ajaib kan? Aku sendiri juga tak percaya.Meski
sempat mogok, namun akhirnya dia mau turun juga.
Seumur-umur baru kali ini aku turun
dari kereta, dengan cara melompat ketika kereta sudah mulai melaju. Hari ini
memang hari paling gila!"Kenapa kamu melakukan tindakan sebodoh
ini?"Hembusan asap rokoknya meracuni segarnya udara pagi. Dengan nada
datar dan pandangan sengaja dibuang ke jalan raya di seberang sana, dia
menanyakan itu padaku."Tidak tahu." Jawabku seperti orang
bodoh."Bagaimana jika tak menemukanku, memasuki kereta yang salah atau
bahkan ikut terbawa kereta?" cerocosnya. Aku hanya bisa diam."Apa
maumu?!" Mendadak nada bicaranya ketus. Baru kali ini dia begitu ketus.
Aku masih tetap membisu, menunduk, reflek jari-jariku memainkan ujung kerudung.
Mataku mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah Nissa..."
sepertinya dia mulai menyadari perasaanku, bicaranya mulai melembut seperti
dulu.
"Percuma saja, Ayahmu takkan
pernah bisa menerimaku. Mungkin benar yang beliau katakan padamu, kamu tak
mungkin bisa hidup bahagia jika menikah denganku."
"Tapi kita belum mencoba.
Paling tidak berusahalah dulu meyakinkan hati Ayah. Luluhkan hatinya, tunjukkan
bahwa kamu benar-benar menyayangiku." Aku mencoba menawar keputusannya.
"Tidak Annisa. Aku terlanjur
sakit hati. Ayahmu telah menginjak-injak harga diriku," jawabnya kembali
ketus.
"Jadi karena itulah kamu
menjauhiku, sebab dendam pada ayahku? Ternyata hatimu tak seberlian yang aku
kira Wildan, aku kecewa padamu!" Tumpahlah air mataku hati ini serasa
dimutilasi hidup-hidup.
"Terserah prasangka kamu. Aku
sudah tak peduli."Seketika itu juga dia berdiri. Berjalan meninggalkanku seorang
diri, yang mulai hanyut dalam sungai air mata.
Aku menangis sejadi-jadinya. Setelah
penuh perjuangan keras untuk bisa bertemu dengannya, ini yang aku dapat?
Sederet luka menganga dan air mata belaka? Tak ku sangka Wildan seorang yang
tak mudah memaafkan orang lain. Mulai detik itu juga aku bersumpah tak akan
pernah menemuinya lagi.
---***---
Tak terasa bulan Ramadhan pun datang
lagi. Berarti hampir 2 tahun ini aku tak pernah mendengar kabar Wildan. Setelah
peristiwa di stasiun kereta itu, tak sekalipun aku menghubunginya apalagi
mencari tahu tentangnya. Kecewa menyelimuti hati tapi hingga detik ini sang
otak tak jua bisa melupakan sosok Wlidan. Apakah karena dia sudah terlanjur
terulir indah dalam bilik hatiku? Ah entahlah...
Ramadhan kali ini, aku hanya ingin
bercinta dengan-Nya. Melewati malam dengan sujud panjang di depan Sang Maha
Cinta. Hatiku telah mati asa. Pasrah kuserahkan semuanya kepada Dia yang Maha
Mengatur alam semesta. Dalam setiap akhir munajatku lirih kulantunkan do'a;
Ya Rabb.. Yang Maha
Membolak-balikkan hati
Yang Maha Wenang memutar balikkan
keadaan
Seluruh alam semesta tunduk pada
perintahmu
Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Mu
Seekor semutpun tak akan mati tanpa
seijin-Mu
Ya Allah, Rabbul Haq
Jika aku dan Wildan berjodoh
Satukanlah kami, dengan cara terbaik
menurut Engkau
Lapangkanlah hati Ayah agar mau
menerimanya
Bukakanlah pintu ma'af
seluas-luasnya di hati Wildan
Lembutkanlah hatinya untuk memahami
sifat Ayah
Dan kalau kami tidak berjodoh
Berikanlah kelapangan dan keikhlasan
pada hati kami
Pertemukanlah ia dengan
jodohnya,wanita yang tulus menyayanginya, yang menyenangkan dan menentramkan
jiwanya
Allahuma aamin...
---***---
Hari raya Idul Fitri kali ini aku
habiskan di rumah saja dengan sanak keluarga. Berbeda dengan tahun-tahun
sebelumnya, tak ada hasrat kemana-mana bahkan sekedar berkumpul dengan teman
lama pun tidak. Sudah 3 hari ini aku hanya bermalas-malasan di kamar. Kontrak
kerja sudah berakhir sejak sebelum ramadhan kemarin. Tumben juga santai saja,
tak heboh mencari lowongan kerja kesana-kemari,"Kliring.. Kliring.."
"1 new mwssage"Dengan
sangat malas ku buka sms yang baru masuk.
"Nissa bidadariku, besok dandan
yang cantik ya. Insyaallah aku dan keluarga akan datang ke rumah. Melamar putri
cantik tuan rumah."
Mataku langsung terbelalak, detak
jantung berdentum tak karuan, keringat membanjiri seluruh tubuh. Dengan tangan
yang gemetar dan dada bergemuruh ku baca berulang-ulang sms itu. Tanpa
basa-basi pria yang terlanjur terukir abadi di hati ini menghubungiku lagi.
Dengan kalimat sekstrim ini? Wildan?! Benarkah ini kamu?
--- *** ---
Dengan wajah tertunduk malu -malu ku
bawa senampan minuman untuk para tamu.
"Annisa, duduk sini Nak.. di
samping Ayah." Suara Ayah menyegarkan tegangnya ruangan. Acara yang
diakhiri dengan anggukan kepalaku ini pun berjalan lancar, dan tercapailah kata
mufakat.
--- *** ---
Sambil menunggu para tamu undangan
aku berbisik pada Ibu.
"Bu, bagaimana Ayah bisa
langsung setuju?" Ibu terkekeh lalu membisikkan sesuatu di telingaku.
"Ini rahasia. Sebenarnya ayahmu
sejak pertama sudah setuju. Ia hanya ingin menguji seberapa kuatkah cinta
kalian, terutama Wildan. Ayah salut sama kalian, bertahan sampai badan kurus
begitu. Tadinya ibu kira hubungan kalian sudah expired loh."
Jleb! Aku menelan ludah.
"Ini mah bukan menguji tapi
membui, membunuh tanpa melukai. Jelas saja badanku jadi kerempeng begini,"
gumamku dalam hati.
--- *** ---
Setelah kami menikah aku baru tahu
rahasia Wildan, suamiku. Kenapa saat itu tanpa ba bi bu dengan pede-nya
langsung mengirim sms khitbah padaku. Ternyata selama 2 tahun kita berpisah,
dia rajin menghubungi sahabat sekaligus teman curhatku. Sekedar ingin tahu
bagaimana kabarku dan pastinya juga perasaanku. Oh so sweet Parahnya sahabatku
dengan polosnya selalu saja menceritakan perasaanku, bahwa aku masih selalu
mencintainya dalam do'a.
Hmmm...Pantesan aja.
--TAMAT--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar