Aku Ingin Berteduh (di Hatimu)

"Cinta adalah sesuatu yang Indah" karena itu Jika aku diberi pilihan "Bernafas atau Mencintaimu," akan aku gunakan " nafas terakhirku untuk mencintaimu "




Rabu, 31 Desember 2014

Muasal Tertulis

"Telah tertulis di 'Lauh' segala muasal, tak terkecuali daun pintu hati yang jatuh; di cinta"

Senyummu menarik GEROBAK-ku

Ada suatu masa dimana keindahan adalah saat menyaksikan selengkung sabit kusuma cakrawala mengambang di bibirmu.

(Hanya sekedar membayangkan pun melena rupa)

Terbelah Hujan

"Pada rumpun rindu yang terbelah hujan
Air matanya mengudara membasuh-basah genang kenangan"

Dijamin....!!!

Jodoh takkan datang tiba-tiba jika anda hanya berdiam diri di tempat.
Anda laki-laki jomblo?
Ingin punya istri??
Datangi orang tua/wali si wanita pujaan hati belahan jantung. Dijamin....!!!
‪
jaminan .....?? :D

Tetas-tetas Cinta

Engkau tentu ingat
Jarak jeda rindu itu kian sangat teramat
Seringkali membuat bantalku berkeringat air mata
Bahkan setiap jengkal jarak pintu rumahku-pintu rumahmu serasa siksa

Kini
Pada tiap putaran rembulan
Lengkung sabitmu menggantung
Kecupan khidmat menghiasi bantal-bantal yang dulu berkeringat air mata

(Ah barangkali inilah cinta
Menetas saetelah sedasawarsa kuerami)

Sekali lagi aku bertanya kepadamu, Saudariku...


"Adakah puisi paling romantis dari kekasihmu yang melebihi "Qabiltu Nikaahahaa wa Tazwiijahaa li Nafsii bi Dzaalik...?"

"KING SULE-MAN"

By: In-Young Uvy

Tuan,
Kami lapar dan kehausan
Jangankan mau lihat tontonan
Cari nafkah saja tak ketulungan

Berita terbaru katanya ada tontonan tak layak jadi tuntunan
"King SULE-MAN"
Ingin rasanya menyaksikan
Apa daya terbentur pekerjan
Demi anakistri menunggui makanan

Tuan
Urusan perfilman
Kami malas ikut campur tangan
Jika boleh meminta, hapus saja semua siaran
Toh kami tak pernah kebagian tuntunan
Lagi-lagi karena masih cari makan

Tuan
Beri kami pekerjan
Bukan uang tunai bantuan
Apalagi acara "KING SULE-MAN"

‪#‎Senja_Cahya‬
(Laut Utara Jawa, 7x putaran bumi sebelum tutup usia 2014)

Aku menyebutnya RINDU II

Seperti Deja Vu, hanya saja kali ini bukan aku pelakunya. Ya, aku adalah korban. Pada jeda tersebut secangkir kenangan hangat bersama kalian kembali. Aku menyebutnya RINDU.

Selasa, 30 Desember 2014

-Secangkir Hangat Kening Kenang Silam-


Tanah rantau
Tempat dimana kerinduan adalah harga mati.
Ia akan selalu berjalan
Mendewasa dalam setiap jiwa yang menjeda sepi

Di sini,
Tanah bebatuan berjalan menuju pipi basahmu.
Hujanmu datang melalui pintu belakang kamarku
Mengusik seketika kuberbisikbisik dengan tuhanku
‪

#‎A.a‬-Senja, keningkenang 2010

Sepucuk Rindu dari Kota Saljuku


Teruntuk yang tercinta, Ibu Murni Suriati
dari JM Vivi Violina

Assalamualaikum wr. wb.
Untuk Ibu di jelaga rindu,
Aku menulis surat ini saat butiran salju pertama turun di kotaku, Bu. Mungkin kau tengah terlelap tidur karena kelelahan dengan aktivitas panjangmu. Atau mungkin kau tak benar-benar tidur karena lelah itu terlalu lelah. Ah, andai aku berada di sampingmu, Ibu. Mungkin jasa ‘memijit’ku bisa sedikit menghilangkan penat itu. Andai aku di sampingmu, andai aku bisa menyelimutimu, memelukmu hingga tertidur seperti yang kau lakukan dulu untukku, Bu.
Setiap hari, selalu ada sepuluh menit setelah sujud terakhirku tersita untukmu, Ibu. Lima menit awal kuhabiskan untuk kembali ke masa lalu, saat aku begitu suka bermanja-manja di pangkuanmu. Aku yang terkadang nakal dan tak mendengar nasihatmu, aku yang menangis karena tak bisa menjawab soal matematika dan kau yang begitu sabar mengajariku. Aku yang keras kepala dan tak mau mengalah, merasa selalu benar, dan kau yang begitu sabar menghadapiku. Lalu lima menit setelahnya aku terlalu sibuk menangis, selalu begitu, Bu.
Bahkan doa yang kuucap untuk senyummu pun terucap patah-patah. Ah, buah hatimu ini masih terlalu lemah ternyata.
Ibu, jauh darimu ternyata benar-benar menyiksa. Kau bilang, aku pasti sanggup melalui semuanya. Kau bilang, aku pasti bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Namun, ternyata kau salah, Ibu. Aku masihlah balitamu yang butuh pegangan hangat jemarimu. Aku masihlah balita yang rindu pelukan hangat tubuhmu. Aku masihlah aku, Bu.
Sama seperti belasan tahun lalu. Terlalu rindu padamu, Ibu. Terlalu rindu. Apa kabarmu, Ibu? Akankah kau kesepian di sana? Sakitkah engkau? Susahkah? Aku tak lagi tahu, Bu. Aku tak lagi dapat mendengar sapamu setiap pagi, tak lagi dapat menyicipi teh hangat sarapan pagi darimu. Tak lagi dapat mengelus tanganmu yang tak lagi halus. Aku tak lagi dapat, Bu. Jarak ini terlalu jauh. Andai bisa kulipat, lalu memelukmu erat.
Ibu, hujan yang jatuh di kotaku ini membeku. Namun, air mata rindu untukmu hangat mengalir di wajahku.
Terakhir sebelum aku merantau ke negeri ini dan membelai lembut rambutmu, aku tersadar, rasanya baru kemarin kulihat rambut itu gelap seperti malam, kini pada helaian rambut lembutmu telah berubah putih, seputih salju. Secepat itukah usiamu berlalu, Ibu? Aku merasa baru kemarin kau menuntunku menaiki sepeda yang dilepas roda tiganya. Lalu garis di wajah dan tanganmu?
Andai usia itu abadi...
Mungkin surat kecil ini tak akan mampu menampung seluruh rinduku padamu, Ibu. Juga tak mampu menampung betapa aku berterima kasih atas hadirmu. Berterima kasih karena telah menjadi Ibu terbaik dalam hidupku. Satu-satunya Ibu, satu-satunya malaikatku, satu-satunya alasan mengapa aku masih bertahan dalam perihnya hidup. Ketahuilah, Bu. Satu hal yang senantiasa menjadi alasanku untuk selalu bersyukur kepada Sang Pencipta karena aku terlahir dari rahimu. Seorang wanita tegar dan satu-satunya pahlawanku.
Untuk surga yang kurindu,
Maafkan buah hati yang terkadang menjadi alasan hadirnya luka dan air mata di pipimu, Ibu. Karena tanpa ridhamu, kunci pintu surga tak kan ada bagiku. Tanpa doa dari bibirmu, aku tak mungkin bisa sampai di negeri ini menuntut ilmu. Ini karena doamu, Ibu. Karena kau meminta pada Tuhan agar aku dapat melihat langit di negeri berbeda. Terima kasih, Ibu. Terima kasih untuk seluruh jiwa dan ragamu.
Ibu, dengan perantaraan surat ini, saat salju di kotaku perlahan-lahan turun. Aku ingin menyampaikan pesan hangat untukmu. Bahwa aku, sangat mencintaimu...
Sun jauh untukmu, malaikat hatiku.
Wassalam,
Dari buah hati yang sangat merindu.
‪#‎Ivi‬

~(menyeduh ulang kenang di kening)~

"Belum bisa kusebut hidup
 jika engkau tak pernah merasakan
 serat-serat kehidupan hingga akar-akarnya."

-Tak ada pemBENARan yang Benar-benar Benar-


Hampir setiap manusia cenderung lebih bernafsu mencari pemBENARan dibanding keBENARan. Tak perlu saling tunjuk. Saya salah satunya! Tidak bisa dipungkiri, opini pribadi sering menggiring saya pada opsi sulit apakah kebenaran atau pembenaran.
Yang terjadi, kata terakhir sering menjadi pilihan.

D A D U

Perang bukanlah permainan DADU
Tapi peperangan yang dahsyat bisa terjadi "hanya" gara-gara DADU!

#Senja

Kedamaian atau Kebenaran?


"Demi bela kebenaran, sering orang merusak kedamaian." ( Kang Dana)
"Demi terwujud kedamaian, terkadang seseorang mengeasampingkan kebenaran." (Senja)
‪

Bagaimana dengan anda....?

Rabu, 01 Oktober 2014

-Tiap Waktu; Jeda Rindu Kian Terpangkas-

By: Uvy

Tiap waktu yang terlewat
Jeda itu semakin terpangkas
Kulihat rembulan bersinar sampai syuruq
Hembus angin panas pengasta cinta kita
Tak kurasa lagi
Doadoa pernah kita selipkan
Pada pengeraman rerimbun kerinduan
Kini sudah hampir menelur
Semoga tetas,
menjadi kelahiran harum anak-anak doa berikutnya
Ah...
Iya benar
Jarak jeda rindu itu
pernah membuat bantalku berkeringat air mata
Bahkan setiap jengkal jarak pintu rumahku-pintu rumahmu serasa siksa
Kelak, aku yakin
Semua menjadi syukur
Sebab Tuhanlah yang Maha Tahu Ukur
Betapa pernah tentram gelisahnya dada
Menahan saat itu tiba
Terimakasih Tuhan
Terimakasih Teman
Atas semua doa perhatian
Pun penantian...


‪Tegal. Agustus 2014

-Mengeram Rindu (Menanti Tetas Rindu)-

By: Uvy
===================

Pernahkah kau merasa rindu?
Jangan tanyakan itu padaku
Rinduku,
Layaknya ternak
meLEDAK ...!
Beranak pinak
Di penghujan musim
Butiran anakanak air langit menghujam
Menusuki hati remuk-redam
Air mata linang menggenang disela-sela pejam
Pernahkah engkau mengharu biru rindu?
Padaku, JANGAN kau tanya itu
Tersebab rindu
Beberapa kali pojokan kamarku bocor tergenang linang air mata
Pun kerana menahan pilu ingin bertemu
Bantal-bantalku berkeringat air mata
PERNAHKAH KAU MERINDU!?
Kumohon, jangan tanya itu padaku!


‪#‎Senja_Cahya‬ (menuju tetas rindu)

Puisi 2 versi (Ngapak-Indonesia)

-Tahukah Engkau?-
By: Uvy

Ngarti belih sih koen?
Saben bengi bantale aku gemrobyos banyumata
Ndean yen bengi jare koen biasa bae
Tapi kangene aku ora karuan tatane

Udan kangen kemrutug lagi bengi
Nambah kamisesege ning ati
Aku pengin rerangkul awakmu
Tapi pibe maning
Neng kene anane guling
Mung-munge

‪#‎Sendakala_Srengenge‬
****

Tahukah engkau?
Hampir pada tiap malam bantalku banjir airmata
Mungkin malammu biasa saja
Sedang rinduku tak berbilang angka
Hujan kangen semalam tak berjeda
Menambah pilu hati
Ingin sekali mendekapmu
Mau bagaimana lagi
Hanya guling menemani
Di sini...
‪#‎Senja_Cahya‬

--Tertulis untuk R, Sun dan Pencuri Ulung--


R...
Masih serupakah rindumu
Mengharu dalam dekap mukenah biru
Hujan matamu
Mantramantra dedoamu
Luruh menggemuruh rerindu
***
Sun
Apa kabar taman hati?
Tak lelahkah sembunyi tak bertepi
Temali rindu
Tak kunjung mampu
Menguat hati melebur pilu
***
Hei pencuri ulung
Dosamu menggunung
Tinggi membumbung
Pendam rindu-dendam
Tak jua padam; aku karam
Di hatimu

‪#‎Senja_Cahya‬ (Aku dan seupil resah pagiku)