By: Andrea 'Uvy' Hidayah
"Kenapa Senja seakan tak berjarak dengan puisi?"
Pertanyaan itu terlontar begitu saja ketika aku bertemu dia. Dengan senyum khas, mata Senja menerawang.
"Merekam dan mendokumentasikan jejak yang singgah di otak, aku
menyebutnya intuisi. Dari intuisi kutulis inti sari dan serat hidup,
jadilah puisi. Puisi serupa rindu di hati, sakitnya melukai sekaligus
menyembuhkan." Ucapnya lembut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar